Jumat, 01 Juli 2011

Houdini

The wait is over.

Gue nggak ngomongin tentang kedatangan final battle Harry Potter. Ngga. Untuk itu, kita cuman bisa berdoa dan berharap bahwa siapapun yang bertanggung jawab atas mangkirnya final saga Harpot di Indonesia disiksa sekejam-kejamnya di dunia (dan kalo akhirat ada, di akhirat).

Gue ngomongin tentang nasib film pendek assignment gue, “Break”.

Setelah lama menanti, setelah pre production yang melelahkan dan sangat tidak optimal. Setelah proses produksi yang melelahkan dan post production yang menghabiskan air mata, tibalah waktunya untuk actually world premiere. Bahwa film ini akhirnya harus ditonton oleh masyarakat. Untunglah bahwa dosen-dosen gue sudah mempersiapkan mental gue untuk yang terburuk. Komentar mereka yang jujur membuat gue tau bagaimana cara bersikap ketika ada orang yang tereak ke muka lo dan bilang, “This isn’t work.”

Gue bangun agak pagian karena ada sesuatu yang gue kerjakan. Dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya antara gue dan Iqbal dan Mike, kita memutuskan untuk tampil rapi jali. Gue memakai jaket terbaik gue, jeans terbaik gue dan kaos terbaik gue (yang semuanya kayaknya bukan gue sendiri yang beli).

World premiere. Semoga seru.

Gue udah mengundang seluruh cast gue. Dewa tidak membalas. Bangkit katanya masih tentatif. Dan Caca pasti dateng, secara dia membintangi separuh film classmates gue. Tata juga pasti dateng. Namanya tercantum di tiga film. Dan tentunya tiga executive producers gue yang cantik : Nisa, Arinta, Qorina.

Ok, here we go.

Gue nyampe agak pagian dan ke Ratu Plaza untuk beli DVD Blank dan CD Case buat ngeburn film gue dan bakalan gue kasih sama crew dan cast gue. Akhirnya gue nyampe di kampus setengah empat, setengah jam sebelum acara dimulai.

Anti klimaks. Gue ngebayangin acaranya full-packed seperti Premiere Ayat-Ayat Cinta atau semacamnya, ternyata yang dateng baru Citra, Devy sama sodaranya, Cynthia Rulin dan Iqbal. Mana yang lainnya?

Ah, ngga seru. Dan ternyata emang tidak serame yang gue kira. Gue menyalahkan hujan, bukan karena emang acara world premiere gue sama anak-anak bukan acara penting.

Tibalah kata sambutan blablabla dan grup pertama. Selalu grup gue. Film Citra diputar, kemudian film Mike, kemudian film Iqbal. Dan terakhir film gue.

Deg-degan. Nggak bisa keringetan karena AC di kampus kenceng oke.

Dan film diputar. Ketika layar muncul countdown, temen gue nyeletuk, “Tengil banget lo pake countdown segala...”

Gue membalas, “Lah, katanya Miss Mouly emang dikasih countdown.”

Lagian keliatannya emang seru aja sih kalo dikasih countdown. Kesannya kayak nunggu apa gitu. Dan film gue mulai.

Gue sih udah bosen anjing. Maksud gue, gue udah liat berjuta-juta kali. Ampe bosen dan beneran muak. Literally sick.

Gue menunggu respon aneh seperti, “Apaan sih ini, lightingnya bikin sakit mata!” atau “Ini linear atau non-linear sok-sokan ala QT?”

Ternyata tidak. Mereka tenang. Cool. Atau mereka ngga peduli? Nggak tau juga sih. Tapi pas ending dimana akhirnya ada twist dikit, mereka ber-ooh ria. Pelan sih, tapi membuat gue langsung keranjingan dan berteriak dalam hati, “Siiippp...”

Datanglah momen Q and A yang sangat nggak menyenangkan karena bahasa inggris gue sama bagusnya kayak idiot.

Dan ada nih satu bule yang akhirnya bilang bahwa, “I like the last film the most...” yang langsung membuat gue menutup pendengaran lainnya kecuali baris kalimat tadi yang menurut gue kayak nyanyian duyung.

Dan dia nanya sama gue, bagaimana gue kerja sama dengan sound departmen, lighting dan semuanya dan tentang konsep gue?

Mampus.

Gue sih bisa langsung oke ngejelasinnya pake bahasa indonesia raya merdeka ini, tapi in english. Gue jadinya kayak Dori di Finding Nemo yang kadang-kadang kena short term memory lost.

Tapi yang jelas, bahwa ada orang yang suka dengan attempt gue untuk membuat “Break” menjadi film yang mendingan daripada aslinya (sumpah, gue ga lebay, tapi i really hate the script). Dan karena “Break” adalah salah satu upaya gue untuk memberikan penghargaan kepada film-film jadul kelas B yang sangat gue kagumi seperti Suspiria, semua film horor jaman dulu dan terutama film-filmnya Ibu Suzzana tercinta.

Dan mengenai scoring. Itu bukan gue yang pintar atau apa. Komposernya aja yang jenius.

Dan tentu saja, semakin sering lo menonton film lo sendiri, keinginan untuk mengubah waktu semakin menjadi-jadi. Lo semakin tahu shot-shot apa yang seharusnya ada tapi nggak ada. Apa yang perlu ditambah, apa yang mesti diilangin dan sebagainya.

Bikin film, ya, semakin membuat gue semakin menyenanginya. Melelahkan, tapi fun. Dan gue langsung tau dimana kesalahan gue dan gue, Insya Allah, nggak bakalan mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Dan tentu saja, ngedenger orang komentar tentang film lo, meskipun itu jelek atau bagus (terutama kalo bagus), bakalan ngebuat lo menggelinjang setengah mati.

Sori, guys. Gue nggak bisa ngupload ke youtube karena satu dan lain hal. Tapi kalo penasaran mo liat, bisa sih kita ketemuan, nonton bareng atau gimana (yaelah, emang gue siape?).

Dan ini terakhir kalinya gue bilang terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang bantuin gue. Kru, cast, dosen-dosen, semua orang yang ngebantu gue.

Regards,

Candra Aditya

Senin, 27 Juni 2011

Its Alive

Hai kawan-kawan...

Sepertinya sudah lama sekali gue nggak berkunjung dan mengabarkan sesuatu tentang film "kecil" yang berjudul "Break" yang gue buat dengan sangat hati-hati.

Final Cut sudah selesai dan semua dosen yang terlibat sudah melihat hasilnya. Banyak komentar positif, mixed dengan kritik yang membangun dan terutama pertanyaan "motivasi lo apa?" yang tiap orang tanyakan setelah menonton "Break".

Its ok, gue nggak bakalan marah atau banting-banting barang. After all, ini adalah belajar.

Aniwei, tanggal 30 Juni 2011 ini, bertempat di ruang 310 kampus gue, Binus International JWC (sampingnya Moestopo, deketnya Senayan City) bakalan diadakan yang namanya PUBLIC SCREENING untuk film-film anak Binus dan bakalan ada Q and A. Kalian bisa nanya apapun.

Gue mengundang cast gue untuk datang dan kalian yang tertarik (DM gue dulu ya di @candra_aditya) untuk nonton film gue.

Jadi itu saja sih. Tapi bukan berarti perjalanan "Break" bakalan berakhir disini. Mungkin saja suatu hari nanti "Break" masuk festival film absurd atau semacamnya. Hahaha...

Ok, me signing out.

See you Thursday.

Kamis, 09 Juni 2011

Something To Die For

Hari ini hari terakhir di semester dua gue kuliah film yang gue bangga-banggakan.

Tapi, gue nggak bakalan cerita tentang hal itu. Terlalu menyedihkan. Maksud gue, menyedihkan karena ada kelas Film Artistic yang dibintang utamai oleh Mr. Dhani Agustinus tapi pesertanya cuman gue, Cynthia, dua alien itu dan Iqbal (yang tentu saja dateng 15 menit sebelum kelas berakhir). Tujuan kelas ini di hari terakhir adalah semua orang tahu tugas buat Final Semester Assignment dan... kelas improvisasi : dimana akhirnya Mr. Dhani ngeliat hasil film kita dan melihat mise-en-scene-nya.

Maksud gue, emang film kita ada mise-en-scene-nya? Well, gue sih merasa punya gue nggak ada.

Oke, lupakan itu. Gue mau menceritakan hari akhir penjurian American Idol.

Deg-degan? Iyalah, gue manusia. Kalo nggak deg-degan gue mayat berarti kayak Edward Cullen. (Anjrot garing banget gue).

Tapi, apakah sedeg-degan waktu Rough Cut? Nggak. Gue lebih lega. Bukan, bukan karena film gue bagus. Justru sebaliknya, semakin banyak lo menghabiskan waktu di ruang editing, semakin bete lo sama film lo sendiri. Gue tuh kayak udah, “Ah, Bangkit bacot lo dari tadi.” Padahal di film itu Bangkit cuman ngomong 5 line sepanjang film.

Gue lega karena apa ya... ya akhirnya inilah waktunya. Untuk dinilai oleh dosen-dosen gue yang hebat itu. Dosen directing, Miss Mouly. Dosen editing, Mr. Robin. Dosen sound, Miss Illa. Dosen Production, Miss Tika. Dosen-dosenan, Mr. Ekky. Sama kepala jurusan gue, Sebut-Saja-Mawar.

Film diputar dan...

...kalo ini AFI, bakalan ada lonjatan yang cukup signifikan di bagian sms.

Yang artinya, katanya sih ada kemajuan dari versi sebelumnya. Lebih enak diliat. Dan semua-semua pujian yang membuat gue merasa “ah-apaan-sih-lo” Barney-Stinson-Style.

Tapi yang the best dari semua itu adalah...

...gue suka banget bahwa mereka semua menyebutkan banyak kekurangan dan saran-saran yang oke.

Banyak orang yang gak suka kritik. I know, dikritik rasanya menyebalkan sekali. Lo kayak pengen tereak di depan mereka, “Ah bacot lo, Anjing.”

Tapi sebenernya, kalo kritiknya membangun dan membuat lo merasa lebih enakan, kenapa enggak? Itu satu, yang kedua, kalo yang ngasih kritik emang orang yang TAHU BENER tentang hal begituan, bukannya itu ilmu yang sangat bermanfaat ya? Tiga, karena kritik itu emang perlu. Kalo lo keterusan dipuji, lo nggak bakalan nginget untuk stay nginjek tanah which is hal yang paling lo butuhkan agar nggak mendapatkan julukan songong.

Hal inilah yang membuat gue suka. Karena menurut gue, inilah pembelajaran yang sebenernya. Supaya lo tau kesalahan lo dan tahu bagaimana menghindari hal itu di kemudian hari. Jangan biarin Neril merusak makna film lo. Jangan melenceng dari shot list. Jangan lupa bikin shot list yang beneran efektif. Jangan lupa rehearsal. Jangan lupa, jadi director itu tanggung jawabnya besar dan bagusnya, dalam mendirect aktor, lo beneran memunculkan karakter dalam diri talent lo.

Tahu sih gue, bahwa perjalanan masih panjang. Dan film gue ini jauh dari sempurna, tapi one last attempt to make it better because I owe you guys (especially my cast, and my crew, maybe. And myself, haha) to make it as better as possible. Dan terutama gue pengen bahagiain bokap gue bahwa gue ke Jakarta ada hasilnya, bukan hanya berubah menjadi perokok, pemabuk dan pervert.

Anyway, film ini TIDAK AKAN gue upload ke youtube. Jadi yaaa... kalo pengen liat, ketemuan aja (hahahahaha). Dan bakalan ada screening di kampus gue, yang bisa kalian datangi, kalau kalian berkenan datang.

XOXO,

Candra Aditya

Sabtu, 04 Juni 2011

Scoring Time Part II

Hari kedua scoring nih.

Hari pertama masih coba-coba berhadiah. Hari kedua ini beneran nyoba untuk scoring.

Nah, setelah menemukan referensi dari Trent Reznor (SUMPAH, KALO DIDENGER, KALIMAT INI KEDENGERAN SANGAT SONGONG), kali ini kita langsung hajar. Maksudnya lebih gue bacot dan si Boy menghajar keyboardnya.

Apparently, kerja sama musisi jauh lebih susah dari yang gue kira. Karena gue tau apa yang gue mau, tapi gue gak tau gimana cara bilangnya. Kayak gue nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Untunglah Boy orangnya sangat okeh, jadinya cukup memuaskan.



At some point, kita bikin nada kayak detak-detak jantung nggak jelas yang... sangat mirip dengan nada-nada yang dibikin sama Hans Zimmer di Inception. Dan gue sama sekali gak kepikiran sama Inception karena konsep gue sama Inception beda gila.

At the end of the day, kita bikin 3 tema musik untuk 4 sequence (salah satu sequence bakalan make tema yang sama dengan yang salah satu sequence).

Cross fingers, semoga match dan jadi keren filmnya!

Dibawah ini ada dokumentasi pembuatan scoring kita yang direkam oleh Angkasa Ramadhan :

Kamis, 02 Juni 2011

Scoring Time

Hai, guys... sudah lama rasanya saya nggak berbincang kepada kalian semua mengenai perkembangan film "Break".

In short, "Break" sudah menemui titik terang dalam hidupnya karena sudah PICTURE LOCK (buat kalian yang belum tahu istilah ini, picture lock artinya dimana semua tahapan editing sudah finish. Di film feature biasanya agak alot untuk sampai di posisi ini karena ada banyak kepala yang memutuskan mulai dari sutradara, produser atau mungkin executive producernya kalau dia sangat berkuasa. Kalau sudah pic-lock, berarti urutannya NGGAK BOLEH diacak-acak lagi karena... akan membuat bagian sound menggila. Tugas sound setelah pic-lock adalah nge-sync dialog dan memberikan "nyawa" berikutnya kepada film dengan memberikan scoring, soundtrack, foley segala macem termasuk mungkin visual effect dan animasi). "Break" berdurasi 4 menit 26 detik.

Walopun ini semua ternyata masih belum se-pic-lock itu karena ada "penjurian" terakhir dimana dosen-dosen gue akan mengatakan apa yang mereka pikirkan untuk memperbaiki film gue.

Jadi, karena film gue sudah pic-lock, saatnya mencari komposer bispak untuk memberikan scoring kepada film saya. Pada awalnya gue memikirkan temen gue yang sangat berbakat dalam hal ini, Gamma Patriono. Akan tetapi, Angkasa yang mengajak gue ke tempat Boy yang mana juga jenius musik, membuat gue terbuai untuk melihat apa yang bisa dia lakukan dengan film gue.

Jujur saja, gue nggak ada bayangan sama sekali tentang musik untuk film gue. Well, bukannya gue buta 100% karena gue punya satu spesifik referensi untuk satu sequence dimana rokok adalah setan. Gue menggunakan lagu yang lumayan creepy dari salah satu music scoring "Suspiria" yang judulnya "Celesta and Bells".

Dan ketika Boy nanya gue maunya kayak gimana, gue beneran gak tau jawab apa. Sampe akhirnya gue mencoba ngulik-ngulik winamp gue dan menemukan bahwa...



...scoring Social Network (yang posternya sengaja gue pampang di depan Doni) yang dibuat dengan maha jenius oleh Trent Reznor dan Atticus Rozz ternyata sangat-sangat-sangat oke untuk dimasukin di film gue.

Gue nggak nyangka. Maksud gue, gue tau banget kalo gue suka banget sama David Fincher. Gue cinta sama Social Network. Tapi gue nggak nyangka kalo scoringnya ternyata menginspirasi gue untuk menambahkan sesuatu dalam "Break".

Tadi emang masih belum direkam, masih sekedar ngobrol sana-sini. Rencananya besok gue bakalan make Boy lebih lama untuk mem-finishkan musik "Break".

Cross fingers.

PS : Scre4m udah tayang by the way. Apakah kalian sudah menonton? ITS WORTH WATCHING.

Rabu, 25 Mei 2011

Enter The Void

Bagaimana rasanya setelah lo syuting film lo dengan penuh emosi jiwa dan raga terus dosen lo, yang tentunya sudah pakar di bidangnya, mulai memberikan pendapat mereka tentang film lo? Deg-degan sih udah bumbu wajib ya. Dan lo bahagia parah ketika mereka bilang "Gue suka ini... Gue suka itu..."

Tapi begitu mereka bilang "...bagian ini gak penting dan nggak work aja...", walopun lo tau mereka benar, lo rasanya pengen ngunyah silet di tempat. Sakit banget. Tapi ini nggak benar. Lo gak boleh personal dan DENGARKAN mereka, itu yang penting. Karena mereka bilang gitu bukan karena mereka pengen lo jatoh dan ngemut paramex seharian, tapi mereka pengen film lo work lebih perfect.

Setelah 2-3 harian, lo udah mulai calm dan saat itulah saat yang paling ngadem untuk mulai ngedit film lo lagi.

Nyalakan yang namanya final cut pro, dan kalo lo kayak gue yang kenalan pertamanya pake premiere, kenalan pertama dengan final cut pro memang tidak begitu nyaman. Masih ada momen kinjong-kinjongan gak jelas dan rasa pengen tereak, "Kentot lo final cut pro, gue sunat abis, mampus lo!" Tapi, yang namanya youtube digunakan nggak hanya untuk ngintip Rebecca Black sama Justin Bieber aja, tapi juga untuk ngintip tutorial-tutorial gokil yang mungkin lo butuhkan.

Setelah udah oke, ketika lo masuk editing room, baca lagi catetan lo tentang apa yang dosen lo (atau dalam kasus lo, mungkin saja mentor/teman lo) tentang pendapat mereka dan PERBAIKI di versi ini.

Nah, kali ini, kalo dosen lo jago ngedit (temen lo juga boleh), lo bisa minta bantuan dia untuk menceritakan cerita lo itu dengan baik. Karena pada akhirnya, editing adalah penceritaan ulang. Skrip yang udah FINAL DRAFT itu bisa saja diobrak-abrik lagi susunannya dan mungkin beberapa makna, efek dan meaningnya jadi berubah. Tapi, jangan khawatir, itu semua dilakukan untuk yang terbaik.

At least, itulah yang gue rasakan. Segedek apapun ketika lo mendengar orang-orang bacot soal kerja keras lo di film barusan, ketika lo melihat hasil editan terbaru dan emang lebih sreg, ringkas dan enak diliat, lo berasa pengen meluk siapapun yang bilang nggak perfect barusan. Dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.

Anyway, film gue masih jauh dari kata picture lock sih tapi sudah mulai mendekati. Ada beberapa decision editing yang kelasnya kelas wahid, ada juga yang simple. Yang wahid mungkin adalah keputusan gue untuk nggak "menjadulkan" semua footage film gue. Kan gue udah sok-sokan pengen ala 80-an dengan kasih efek 80-an. Tapi setelah gue coba, nggak begitu bagus hasilnya. Jadi, yang gue kasih cuman opening credits sama credit title aja.

Mungkin itu sih my big decision. Sama syuting ulang kemarin, adegan insert shot nggak penting imel-imelan, karena yang kemaren kata-katanya kurang tajam, setajam silet.

Dan gue sudah menemukan soundtrack buat ending film gue yang dimainkan oleh, tidak lain dan tidak bukan, The Mischievous. Mad Empire adalah judul lagunya dan itu sangat EPIK.

Oke, see you soon. I'll tell you another tale.

Sabtu, 21 Mei 2011

Bang Bang

Hari Kamis, kelar kelas Directing, setelah makan tentunya, gue sama Angkasa langsung ngejogrok di depan ruangan 303, kencan dengan laptop dan Premiere sampe jam setengah sepuluh.

Raihan jadi teroris sampe akhirnya kita berangkat ke CK jam setengah sepuluh dan ketemuan sama Raihan di CK Cikajang. Setelah gila-gilaan bentar, Citra dan Bieber datang dan kita mulai mengedit.

Tentu saja, kita bener-bener tidak peduli dengan keadaan sekitar. Perhatikan ini, yang bakalan terjadi di dekat orang yang sedang mengedit : mereka bakalan melakukan hal-hal gila seperti dzikir “anjing” dan “kentot”, nyanyi sendirian, ketawa sendirian, nangis sendirian, nari sendirian. Jason Mraz style : we sing, we dance, we steal things.

Setelah itu, jam 4 pagi, karena kesian sama mas-mas CK juga, kita cabut. Citra ke rumahnya, Bieber balik ke kosannya, gue, Angkasa dan Raihan ke rumahnya Raihan yang kalo bisa gue bilang adalah rumah impian. Kayak rumah-rumah di film silat Indosiar. Dengan taman di depan rumah yang sangat hijau, lengkap dengan ayunan segala macem. Dan begitu masuk ke kamar Raihan dan ranjang yang menggoda, gue semakin pengen tidur. Malem sebelumnya hanya tidur 2 jam dan hari ini tidak ada tidur. Tentu saja ranjang itu terlihat sangat menggoda.

Untuk itulah (dan kamar itu tingginya 5-6 meter, memberikan kesan klaustropobik) gue menyalakan MTV dan E! Untuk menjaga mata gue melek. 30 Second to Mars dan kenapa lo mesti tau dengan hubungan Khloe dan Lamar adalah sesuatu yang membuat gue melek. Tapi yang paling bikin gue melek adalah kenyataan bahwa Ashanty semakin dekat dengan Anang Hermansyah setelah duet bersama dan mencampakkan Syahrini tapi tidak sedekat itu karena Ashanty tidak menemani Mas Anang potong rambut.

Dan tiba-tiba udah jam 7 malem yang ditandai dengan pembantu Raihan masuk ke kamar, memberikan nasi goreng bertelor mata sapi dan bersosis ala Shinta-Jojo. Gue beneran merasa kayak Donald Trump walo hanya beberapa detik. Maksud gue, kapan lagi lo menikmati sarapan di ranjang dengan MTV menyala? Dan jangan salahkan gue kalo pas gue mandi di kamar mandi Raihan, gue kayak anak udik merem di bawah pancuran air panas dan setelahnya melakukan cita-cita gue mengaca di cermin yang berembun yang mengharuskan gue menyentuh cerminnya dulu supaya embunnya ilang, Kate Winslet style. Kayak di Titanic.

Nyampe di kampus gue muntah. Bukan karena semua guru ngumpul di ruangan yang sama dengan notes di pangkuan mereka. Ada Mr. Ekky, ada Mr. T, Ada Miss Mouly, Ada Adilla, Ada Robin adan Miss Tika.

Semuanya udah parno duluan. Ehmm... mungkin sama orang yang nggak pernah tidur di rumah makanya dia bisa tidur dimana aja yang dia mau, yang keliatannya cool aja seperti biasanya. Maksud cool disini adalah tidur di kelas like usual.

Dan grup kita, grup ITC dateng pertama. Mike keliatan cool (filmnya tentang anak yang ngebaks dan bad trip), Trus Citra (yang menceritakan tentang hubungan lo sama Tuhan dengan cara yang paling gak lo pikirkan), trus gue.

FYI, sebelum hari ini, gue udah mikirin semua jawaban atas perkiraan pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan kayaknya pasti bakalan ditanyakan. Terutama kalo lo udah liat film gue.

Yang ternyata... tidak hanya pertanyaan. Mereka cuman bilang banyak sekali input dan comment tentang “roller coaster eksperimen” yang gue lakukan di film gue. Yang tentu saja sangat membantu gue untuk mengumpulkan ide-ide baru di editing selanjutnya dan beberapa hal yang memang udah gue tau duluan seperti kenyataan bahwa ngedirect aktor itu susahnya kayak taik.

Jadi, rasanya kayak thank you karena mereka nggak nanya ini, nanya itu. Walopun mungkin saja mereka bakalan melakukannya di kelas masing-masing.

Dan gue sangat suka dengan kata “improvement” keluar dari mulut seorang Miss Mouly Surya. Maksud gue, itu kayak duar banget buat gue. Gue harus bekerja lebih keras buat ngedirect aktor karena itu memang penting dan pe-er gila-gilaan. Gue harap, gue masih punya banyak waktu kan? Dan gue juga punya banyak hal yang harus gue lakukan di editing buat final cut.

Dan sebenernya kenapa gue melakukan seperti yang gue lakukan di film gue sih sebenernya bukan karena gue sok tengil atau gimana. Miss Mouly bener banget, lo terjun di sebuah area dimana talent is overrated. Tapi gue pengen banget pushed my boundaries. Maksud gue, gue sekolah kan bergantung sama nilai-nilai gue yang mana harus gue dapatkan sesempurna mungkin demi masa depan gue, yang mana semakin lama semakin berat gue rasakan karena makin hari gue semakin less optimist.

Dan jam 4 mereka mendrop bom yang terdiri dari ratusan kalimat kepada semua orang. Terutama tentang drama dan attitude anak film pas syuting film dan gue nggak bisa melupakan satu kalimat atau satu topik yang salah satu dosen bilang.

Gue nulis ini bukan karena gue sok-sokan ngebela diri sendiri ya. Gue tau, gue salah gila. Dan tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, gue masih manusia. Jadi, masih agak bisa dimengerti kalo kita lupa satu atau dua hal. Tentang insiden kenapa-gue-lupa-ngajakin-Bangkit-satu-satunya talent-gue-untuk-gabung-makan-setelah-wrap-syuting. Yang terjadi karena gue capek gila dan pleng-plengan lupa dan gue juga masih emosi jiwa karena syuting adegan terakhir gue gak ada puas-puasnya, keadaan chaos dan gue semakin nervous diliatin begitu banyak orang ngedirect adegan itu. Tentu saja gue lupa. Dan Bangkit juga udah capek dan mau pulang. Jadi kita berdua lupa. Dan tentu saja gue nggak melakukan itu DISENGAJA. Maksud gue, itu adalah hal pertama yang ada di otak gue : treat talent gue dengan hormat dan enak.

Tapi, sebelum orang-orang semua bilang, gue udah guilty duluan dan malem itu gue sms Bangkit dan bilang bahwa kita pasti bakalan ketemuan lagi karena gue masih butuh rekaman suara lo dan gue pasti BAKALAN NRAKTIR LO, dan dia bilang, “Santai aja, Bro. Slowww...”

Dan dengan duit hanya 15 ribu pas pulang dan gue ngantuk berat, gue nggak tau harus ngapain, gue memutuskan untuk tidur jam 7 malem dan bangun jam 6 sore keesokan harinya. Dan ini adalah sebuah pesan buat kalian yang tidak makan apapun selama kurang lebih 35 jam, jangan bangun langsung berdiri. Penglihatan lo bakalan jadi hitam semua.

Kamis, 19 Mei 2011

Post-Pro Madness

Seperti yang selalu gue sebutkan bahwa menjadi anak film itu sangat menyenangkan. Melelahkan gila tapi sangat menyenangkan.

Tapi kadang kita lupa betapa melelahkannya itu. Maksud gue, tiga minggu lalu kita menggila syuting. Syuting sini, syuting sana. Badan langsung drop. Satu sakit, semuanya sakit. Secara selalu bersama-sama dan sharing segala macem. Jadi ya, mo gak mau, lo ketularan juga.

Dan kita baru aaaajjja istirahat dikit, tiba-tiba udah ditodong rough cut sama kampus. Dosen-dosen itu bakalan berkumpul untuk menjudge apakah kita pantas mendapatkan gelar mahasiswa film dan kita mempersiapkan pertanyaan 'motivasi lo apa?' dari para dosen dan berusaha nggak pipis di celana di tempat.

Sekarang gue harus menggila untuk mengedit dan untung sajaaa... Robin Moran mengijinkan kita ngedit rough draftnya di premiere yang mana, gue agak ahli ketimbang final cut pro.

Jadi, doakan saya selamat sampai at least, setelah disidang.

Salam,

Candra Aditya

Ditemani : Citra Melati, Raihan Aahmes, Angkasa Ramadhan dan Arja Wawo-Runtu

Kamis, 12 Mei 2011

Shots!


Ok, guys. I dont mean to freak you out, but im not in a good place right now.

Tadi siang, sambil menunggu callingan dari Iqbal untuk syutingan berikutnya, gue memutuskan untuk meng-capture hasil syuting dan mengeditnya secara asal di Premiere (karena hasil akhirnya HARUS diedit di Final Cut Pro, selain karena emang sudah titah dari dosen, Robin Moran yang terhormat, tapi juga karena gue pengen mengembangkan sayap gue di dunia ngedit-ngedit)untuk melihat kira-kira apakah hasilnya sesuai bayangan.

Hasilnya adalah tidak.

Well, nggak 100% nggak sih. Beberapa part emang seperti yang gue bayangkan. Tapi sangat jauh dari bayangan gue.

Menyebalkan. Dan gue gak bisa mengulanginya.

Miss Mouly sangat benar. Ini adalah pembelajaran paling besar yang gue dapatkan selama kuliah. You cant go backwards. You move forward.

Dan gue jadi tahu, apa yang membuat gue salah :

1. Sangat kurang persiapan.

2. Kurang ngobrol sama DOP gue, apa yang sebenernya gue mau

3. Kurang ngebantai aktor (bukan berarti yang maen kemarin nggak bagus ya, cuman kurang perfect aja dan ngeliat talent gue yang gokz-kill, kayaknya mereka bisa lebih bagus)

4. Terakhir yang paling penting, KURANG SABAAAARRRRR

Sebenernya, gue nggak bakalan sepanik ini kalo gue sama kayak anak lainnya. Masalahnya gue kasus spesial. Nasib kuliah gue ditentukan dengan nilai-nilai gue, yang juga ditentukan dengan bagus tidaknya film gue.

Jadi, kalo GPA gue kurang, gue hanya bisa mengisi titik-titik dan Tuhanlah yang bakalan ngisi titik-titik kosong itu.

Minggu, 08 Mei 2011

Death Proof

Sekolah film sangat menyenangkan.

Seriusan. Kerjaannya ngakak ngikik, pusing mikirin skrip, terus ngakak lagi, dan mulai syuting, stres sendiri, di editing gila sendiri, final cut menggila sendiri, trus ngakak lagi yang kali ini mungkin ditambah tangisan.

Kali ini adalah sensasi yang sangat berbeda. Pertama, ini adalah film proper pertama gue yang gue bikin dengan status mahasiswa. Dua film pendek gue sebelumnya belum bisa dihitung proper karena kalo dibandingkan dengan yang satu ini, persiapannya gila-gilaan. Dari pre-pro (casting ya Tuhan dan Tata thank you so much) aja gue udah keteteran duluan. Belum lagi kenyataan bahwa ini film bakalan jadi nilai gue. Dan fakta bahwa, nasib gue sekolah di kampus mahal itu menjadi taruhan kalo film gue gagal. Ingat, IPK harus diatas 3,5. Rasanya pengen bunuh diri dimakan sama biawak.

Hari H datang.

Anak-anak sudah dateng duluan dan gue sama Henna masih harus nyasar dan muter sekali lagi karena kebodohan kita nyari rumahnya Pak Agni buat nyari lighting. Crew gue udah nyampe duluan di kampus, termasuk juga talent gue, Caca yang gokil, dan gue masih otw. Kalo gue gak malu-maluin gue udah bunuh diri, secara semalem sebelumnya gue udah sms ke anak-anak ‘dateng jam setengah sepuluh on time, telat gue bacok’. Dan yang telat malah gue.

Nyampe kampus, anak-anak langsung beres-beres dengan tugasnya. Gue langsung ke perpus pinjem buku buat props. Turun ke bawah Caca udah ready dan langsung shoot scene satu, interior dalam mobil. 15 menit kelar. Thanks Caca, you’re so amazing dan gue doakan pacar lo yang berikutnya nggak pengen cabut dari lo lewat twitter.

Berikutnya kita langsung cabut ke lokasi, kosan dosen gue. Gue sebelumnya harus membeli beberapa benda keramat syuting seperti lakban (catat, ini adalah hidup mati lo di lokasi), mika plastik berwarna (buat filter lighting, karena apparently, gue nggak paham kalo ternyata color gel jauh lebih berguna) dan baterei serta lampu 14 watt (harganya 50 ribu dan gue pengen bunuh diri di tempat).

Sementara gue membiarkan crew gue ngaso dan makan sementara dan gue sok-sokan jadi seniman yang gak makan (gue gak bisa laper karena apparently, lo merasa harus melakukan semuanya secepat mungkin dan sesempurna mungkin). Ini menghemat energi karena balik-balik semuanya udah ada di tempat. Poster udah terpasang dari hari sebelumnya. Laptopnya buat Doni udah masang, DVD-DVD Fincher, DVD filmnya Edgar Wright (Shaun of the Dead sama Hot Fuzz, yang gue pasang untuk pamer aja bahwa gue terinspirasi berat sama dia), BB, korek, rokok, buku dengan banyak post-it (sesuai dengan skrip) semuanya udah ter-set. Tinggal nunggu cast dan syuting.

Okeh, akhirnya Bangkit datang dan dia keringetan.



Kemudian datanglah Dewa. Dan kita mulai syuting.

Gue cuman perlu reading bentar dan latihan blocking karena hari sebelumnya udah latihan di Coffee Toffee. Dan langsung syuting. Gokilnya adalah ternyata lighting gue dengan mika plastik itu bisa beneran jadi seperti yang gue mau walaupun... mikanya langsung kepanasan dan mengkerut. Jadi, itulah alasannya kenapa color gel dibutuhkan untuk lighting warna-warni.

Dewa kelar, dia langsung cabut. Dan kini giliran gue memakai Bangkit sampai kelar scene.





Sampai adegan Bangkit dihantui oleh rokok, gue masih fine dan gue bekerja dengan nyaman. Begitu dosen gue, alias pemilik kamar masuk, gue mulai menggila. Sama seperti ketika gue nulis, gue nggak bisa diawasi sama orang. Jadinya gue panik sendiri. Apalagi udah sore juga dan gue nggak membiarkan crew gue istirahat untuk makan kecuali ngerokok 15 menit. Dan gue juga udah kekurangan energi untuk bentak-bentak (ya, gue agak tereak-tereak dan annoying kalo udah mulai nge-direct. Sori, guys).

Begitu masuk adegan toilet, crew gue udah mulai loyo semua dan gue makin panik karena ada beberapa scene dan jutaan shot. Gue makin gila dan pemilik kos mulai berteriak-teriak pengen liat bola. Sebenernya dia nggak papa, tapi kalimat-kalimat itu membuat gue jadi semakin bete dan merasa bahwa gue harus ngerjain ini secepat mungkin.

Berikutnya kelompok lain kelar syuting dan “berkunjung” ke lokasi dan pemilik kos berkata ke gue bahwa kita nggak boleh tereak-tereak, rame atau segalanya.

Sementara gue membutuhkan aktor gue mengeluarkan emosinya buat scene resolusi. Oke. Gue memutuskan untuk mengorbankan scene ini.



Dan akhirnya pas adegan balkon, gue nggak boleh make lighting ribet karena kalo keliatan dari depan takutnya orang-orang pemilik kos minta duit karena kita make syuting nggak ijin dan mungkin minta bayaran.

Gue makin loyo dan akhirnya ngesyut ngasal. Satu take. Kelar. Wrap.

Dan gue nggak ngambil room-tone walopun dosen sound gue udah tereak-tereak soal room tone (untuk masa depan, ambil room tone di awal syuting karena lo masih inget, fresh dan bahagia moodnya. Pas udah kelar mood lo udah drop dan gak bakalan mikir taik-taikan kayak gini lagi. Peduli setan dosen lo bilang apa, REKAM ROOM TONE DI AWAL. Dan di akhir kalo bisa).

Crew gue bahagia. Pemilik kamar bahagia. Orang-orang bisa cabut. Yang nggak bahagia, mungkin cuman gue.

Karena gue sadar bahwa skrip gue biasa saja dan gue membutuhkan visualisasi yang luar biasa yang tidak kesampean. Secara teori emang rencana fotografi film gue harusnya dahsyat. Tapi keterbatasan alat, intelejensia dan kesabaran gue serta skill kita yang masih pemula, membuat semuanya tidak seperti yang gue bayangkan di otak. Dua, moodnya jumping dan warna-nya bakalan jumping yang mungkin (atau tidak) diakalin di editing. Tiga, gue bete aja karena gue membutuhkan kesabaran dan support yang tidak gue dapatkan pas syuting.

Ya, gue tau, budget gue sangat kere. Budget gue udah abis buat beli benda-benda nggak penting dan sekedar bayarin makan crew gue (TALENT GUE BAHKAN GUE BIARIN KELAPARAN, ANJING, KEJAM BANGET GAK SIH GUE???). Mana mungkin gue bisa sewa ruangan yang gue bebas merdeka make ruangan itu kayak apapun. Mo lightingnya 700 juta watt atau talent gue tereak-tereak sampe tenggorokannya bedarah, terserah! Ya, itu sih udah bagian resiko aja kali ya. Saran gue sih, buat masa depan, kalo lo emang syuting di rumah orang, temen lo atau siapapun, pastikan lo bisa ngedapetin apa yang lo mau biar lo nggak bawaannya nyolot kayak gue. Dan lo puas dengan hasil yang lo lakukan.



Jujur saja ya, syuting Breaking-Up Date jauh lebih fun dan gue santai. Moodnya enak dan semuanya bekerja dengan lancar. Untunglah syuting Break ini gue mendapatkan crew yang gokil. Mike gokil dan niat walopun duduk di lantai dan baca majalah syur, Iqbal mau melakukan sinematografi geisha, Citra menjadi produser/assistant sutradara yang baik dan Arja mau gue jadiin lighting-man manual (karena gak ada kakinya, lightingnya harus dipegang tangan dan FYI, lampu itu panas dan bau). Thanks guys, I cant do any of this if you’re not around.

Dan tentu saja talent gue yang gokil. Bangkit, Caca, Dewa. Lo semuanya juara.

Ngomong-ngomong, gue akhirnya melihat hasil syuting gue (dan dihakimi oleh Pak Agni) dan mendengar diri gue mikir bahwa gue harus ngetake ini, ngesyut ini, dan segala macem (dan seperti perkiraan gue, semuanya adalah shot-shot yang syutingnya akhir-akhir yang pas udah chaos), tapi gue rasa, itu udah lumayan dan cukup mendekati seperti yang gue mau (atau jangan-jangan, ini cuman sekedar penghiburan diri karena gue ulang tahun kemarin dan nungguin bokap nelpon gue tapi gak nelpon-nelpon?).

Dan terakhir, sebelum Miss Mouly tereak-tereak soal motivasi kenapa ini begini ini begitu, gue mau minta maaf aja kalo ntar pas liat film gue udah stres duluan. Dan Robin Moran yang mungkin ntar bakalan freaked out. Dan Pak Agni yang sepertinya bakalan kaget ngeliat gue nggak dengerin dia sama sekali tentang apa-itu-white-balance-dan-segala-macemnya. Dan juga Miss Ila yang mungkin bakalan garuk-garuk telinga karena sound-nya super ngasal.

Paling gak, dengan ini semua, gue berharap bahwa kelompok lain yang belum syuting, bisa belajar dari semua kesalahan gue.


Jumat, 06 Mei 2011

Menggila.com

Oke, setelah filmnya Mike kelar, malemnya kita syuting filmnya Mike lagi yang gagal karena... dia gak menghubungi talent (padahal semua crew-nya udah dateng duluan) yang ternyata jadi sakit. Jadilah kita berangkat ke Sunter tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali mabok. Jadi, guys, kalo kalian mau syuting, pastikan talent sudah siap sebelum crew lo semuanya udah ready.

Kemarin btw, syuting filmnya Citra. Yang enak adalah filmnya indoor. Fun dan seru. Pokoknya setelah syuting filmnya Mike yang ribet, semuanya kayak gampang aja gitu.

Nah, ntar sore, gue giliran reading sama cast gue. Terus ada syuting adegan pendek malam hari sama Caca yang bakalan diambil di Coffee Toffee di Hang Lekir.

Wish me luck.

PS : Beli color gels dimana ya?

Senin, 02 Mei 2011

Shooting Tips (Especially at Night, Exterior and in Kota)

Gue tau, ini bukan syuting resmi buat "Break" (yang rencananya akan dilaksanakan minggu ini di hari Sabtu, 7 Mei 2011), tapi sekedar berbagi pengalaman dan tips buat kalian yang syuting gerilya.

Jadi, gue ditunjuk sebagai unofficial leader dimana gue bertugas untuk in-charge bahwa semua anak buah gue mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Baik di filmnya sendiri sebagai sutradara atau pas jadi crew di film orang lain. Di kelompok gue ada 4 orang, termasuk gue, Citra Melati, Iqbal Fadly dan Mike Julius. Ya, empat-empatnya orang gak waras semua.

Film pertama yang dapet jadwal syuting adalah filmnya Mike yang ternyata paling banyak scene-nya dan ribet banget lokasinya. Dari Kota sampe Bunderan HI dan malem pula. Jadilah, gue memutuskan yang ribet dipertamakan.

Kemarin setelah kelas Academic English yang maha-taik itu, gue sama anak-anak langsung ke rumahnya MIke, preparation bentar dan hajar ke Kota untuk syuting.

Berikut ini adalah tips yang gue dapet waktu syuting kemarin dari filmnya Mike :

1. Please kalo hunting lokasi yang pasti, jangan sampe udah di lokasi lo masih gak yakin mo syuting dimana.

2. Pastikan lo udah tau shot-shot mana aja yang lo ambil, jadi kalopun lo improvisasi, nggak kebanyakan juga.

3. Please do READING. Latihan yang banyak. Rehearse, rehearse, rehearse. Selain blokingnya juga enak, biar nggak kebanyakan ngulang.

4. Kalo kru dan termasuk lo adalah pemabuk kayak the rest of us, please stay sober at least until the very last of the shot. Kalo emang udah wrap semuanya hari itu, lo boleh mandi alkohol.

5. Ini sepele, tapi mukjizatnya tinggi : AUTAN IS YOUR NEW BESTFRIEND. Kota, terutama daerah exteriornya, kalo malem, nyamuknya lebih ganas dari banci yang ngegodain Arja pas kita berenti di perempatan Blok M.

6. Abis syuting, pastikan semuanya nggak ada yang ketinggalan dan kalo emang gerilya, kembalikan apapun seperti aslinya. Ambil sampah. Cintailah kebersihan.

Dan dengan ini gue menyatakan bahwa gue sangat untung, syuting gue INDOOR!

Minggu, 01 Mei 2011

Re-Introduce Ronan

Salah satu yang paling bikin paranoid adalah kalau lo udah mendekati waktu syuting lo dan ternyata salah satu pemain lo masih agak susah dihubungi. Ini bakalan gampang diselesaikan kalo lo syuting proper alias beneran. I mean, you hire an actor and you pay them. Tapi kalo lo syuting buat tugas kampus yang mana, tentu saja, lo membayar kerja keras mereka dengan terima kasih, lo harus siap mental untuk bekerja sama dengan baik dan nggak menomor satukan ego lo.

Mendekati hari H, Iboy yang harusnya menjadi Ronan ternyata sibuk dan masih belum bisa meluangkan waktunya untuk reading. Gue agak ketakutan. Jadi, dengan sangat terpaksa gue bilang sama Iboy bahwa saat ini, gue kayaknya nggak bisa make dia lagi, walopun dia udah komit. Dia sibuk dan gue tau itu. Tapi gue, dengan sangat menyesal, nggak bisa mengorbankan film gue.

Maksud gue, gue tau bahwa film gue cuman film pendek 5 menit maksimal. Tapi, gue pengen hasilnya bagus. Gue pengen, kalopun dia hanya tampil setengah menit, dia bisa keliatan bagus. Dan gue pengen perfect. Semuanya pasti pengen semua yang dia hasilkan bagus dong. Nggak terkecuali gue. Jadi ya... ketimbang gue punya potensi bahwa film gue kurang bagus gara-gara salah satu pemainnya masih ragu-ragu atau masalah lain, mendingan gue cari aktor lainnya ASAP.

Dan terima kasih kepada casting manager gue, the one and only, Tata, untuk membawakan satu lagi manusia yang mencoba untuk menjadi Ronan.

Namanya Dewa, kuliah di UI (harus ya?) dan alasan yang keren kenapa dia main di film gue adalah karena dia pengen bantu gue karena dia tau bahwa ngebantuin orang bakalan dapat karma yang bagus karena sekarang dia juga lagi skripsi.

Isn’t that nice?

Dan ya, gue ngasih jempol pas dia bilang gitu sama gue.

Anyway, dia cocok dengan apa yang gue harapkan. Bisa merokok, kooperatif dan enak diajak ngobrol. Dia juga tau apa yang gue mau. Tentu saja dengan reading dan ketemuan sama cast lainnya bakalan membuat aktingnya menjadi semakin duar. Tapi, saat ini, gue udah puas duluan dengan ketemuan kemarin.

Jadi, once again, I have to say that Im so fucking satisfied with my cast and I really cant wait to start shooting.

Dan masalah baru yang mungkin bakalan menghadang adalah : jadwal syuting gue yang gue puyeng mikirinnya. But, that’s another story.

So, let me introduce you to... RONAN. AGAIN.

And I promise, this is the last time I said that.



Dewa is the guy on the right.

Jumat, 29 April 2011

Reading Kedua

Oke, barusan gue melakukan reading tercepat di dunia bersama Caca di Coffee Toffee Senayan.



Yang gue seneng adalah Caca adalah jenis seorang talent yang semangat dan passionate soal perannya ini. Dia belajar ngerokok (kenapa sih gue dengan nyuruh orang jadi smoker?) dan semangat tentang perannya. Dia bahkan sampe minta buat panjangin kukunya supaya pas megang rokok tangannya keliatan cute.

Aww... Caca. Love you.

Dan tentang penampilannya, GUE DEMEN GILA.

Cant wait to shoot dan kumpul sama the rest of the cast!



Kamis, 28 April 2011

Manipluasi Colorful Lighting

Gue agak-agak gila akhir-akhir ini. Mendekati hari production gue semakin gila karena gue banyak ide tapi gue nggak ngerti apakah gue bisa mengaplikasikan ide gue dengan benar atau enggak, karena semua orang tahu bahwa gue berpengalaman dalam memikirkan konsep tapi secara kenyataan nggak sesuai dengan apa yang gue mau.

Jadi, kalian tahu bahwa gue pengen bikin film gue kayak Suspiria gitu lightingnya. Dan gue masih agak parno, bagaimana cara bikinnya.

Jadi, ini adalah salah satu cara memanipulasi colorful lighting. Tapi gue nggak tahu apakah ini ngaruh di videonya apa nggak.



Kalo kalian tahu caranya, ide, saran atau apapun, plis dong, gue butuh banget. Thanks.

Kamis, 21 April 2011

Reading Pertama

Setelah kemarin gagal reading dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan, hari ini akhirnya gue jadi reading. Walopun akhirnya cuman sama Bangkit karena si Iboy UTS dan Caca tidak bisa karena udah ada janji.

Seperti biasa, ketemuan dilakukan di 7-Eleven Senayan, which is merupakan tempat reading yang buruk karena ramai, banyak alay dan susah konsen. Tapi tidak apa-apa, ternyata semuanya berjalan dengan lancar.

Yang gue lakukan, instead of beneran baca dialog dengan lantang dan serius (tetep baca dan serius, cuman gak seserius itu) karena skrip gue minim dialog, gue bilang sama Bangkit untuk menelaah dialog yang gue tulis (bahasa gue itu low) dan mengganti kalimat yang mungkin dia ngerasa nggak comfort untuk bilangnya. Dari sini ternyata gue sadar bahwa ini hal yang bagus karena Bangkit memberikan gue inspirasi untuk nambahin detil-detil kecil yang gak berpengaruh signifikan tapi kalo ditambah detil kecil itu, hasilnya jadi tambah komplit.

Jadi ya... reading pertama sangat menyenangkan.

Tidak sabar untuk mengumpulkan semua cast gue.

Senin, 18 April 2011

Ok, this is the new RONAN

Gue bete banget sebenernya karena FARMAN-LAH yang harusnya menjadi RONAN.

Satu, karena dia UDAH PAS banget jadi RONAN. Gak seperti 100% yang ada di bayangan gue, tapi gayanya, ke-rock-n-roll-an dia bener-bener cocok. Dan bisa.

Tapi, sayang, dia sibuk dan gak bisa. Jadilah gue mengkontak satu-satunya orang gokil yang kenal banyak orang-orang narsis, Tata.

Dan ketemulah gue sama Iboy.



Sejujurnya, Iboy lebih cute dari yang gue bayangkan. I mean, like unyu. Sementara peran yang gue tawarkan tuh lebih yang rusuh, yang rock-n-roll. Bangsat nomor satu.

Poin plusnya, dia bisa merokok. Dia pernah main film pendek juga.

Dan walopun dia agak-agak pemalu dan menurut gue ini bakalan chalenging, gue akhirnya mau karena gimana-gimana dia emang bisa main di film gue.

Jadilah, cast gue udah komplit. Tinggal gimananya gue ngajakin mereka ketemuan, reading and prepare to roll the camera.

So, this is Ronan.



Rabu, 13 April 2011

Suspiria

Tentu saja gue masih panik karena semuanya belum beres, walopun gue bisa bernafas lega bahwa gue udah menemukan Doni. Kudos to Tata. I love you. Dan kalo "ramalan" itu benar, mungkin guelah berondong yang lo cari, Ta.

Aniwei, karena gue udah bilang bahwa skrip gue membosankan dan bisa dibuat menarik secara visual, gue memutuskan untuk membuat "Break" menjadi film-film yang look-nya ala-ala film 80-an yang lightingnya lebay. Kayak film-filmnya Suzzana, lo bisa liat istana Nyi Roro Kidulnya penuh dengan lampu warna-warni dunia. Atau kayak film Suspiria, di bawah ini :







Yang sebenernya gue temukan saat gue menonton film ala-ala 80-an, Grindhouse-thingy berjudul Hobo With A Shotgun :



Gue suka banget sama lampu-lampunya karena menurut gue, itu bisa menjadi salah satu trik gue untuk menunjukkan emosi seorang perokok yang lagi break ngerokok (hence, the title). Kayak dunia ini gak real. Ini state of mind-nya dia. Ngerti kan?

Selain itu, gue juga membayangkan bahwa ada satu sequence dimana gue mencoba untuk mengeditnya ala-ala filmnya Edgar Wright yang cepat karena menurut gue, itu keren dan cocok-cocok aja masuk di film gue.



Gue emang baru sadar kalo Edgar Wright adalah salah satu dewa gue. Emang dia bukan Kubrick atau Spielberg atau Hitchcock, tapi gayanya gokil dan gue suka. Kenapa emang kalo cuman bikin film ketawa-ketiwi?

Jadi, cross finger, semoga gue bisa membuatnya seperti yang gue bayangkan.

Senin, 11 April 2011

Let Me Introduce You To Doni

Gue desperate.

Karena dari tiga orang yang gue casting, gue masih belum menemukan satu orang, satu orang saja yang membuat gue mikir, “Oke. Ini dia yang gue cari.”

Jadilah, gue minta bantuan orang terbaik sedunia, Tata, untuk mencarikan satu orang. Dan di hari Jumat lalu, akhirnya ketemuanlah gue sama Bangkit di 7-Eleven.



Seperti kebiasaan gue ngasting kemarin, gue nanya-nanya basa-basi kenapa lo mau main di film gue, apa sih yang lo suka dan blahdiddyblahblah. Lalu gue menunjukkan skrip gue dan gue tanya tentang apa sih karakter Doni di kepala lo.

Dan inilah yang membuat gue memutuskan bahwa Bangkit bisa jadi Doni : dia menjawab pertanyaan gue dengan benar.

Gue langsung kayak bahagia, seneng, campur aduk gak karuan karena akhirnya gue menemukan Doni, karakter utama gue. Gue semakin dekat.

Yang sekarang menjadi pe-er gue lagi adalah kemungkinan besar Farman, calon pemeran Ronan, kakak Doni sepertinya nggak bisa main karena ada banyak hal yang mesti dia lakukan. Jadi ya... gue kayaknya harus nyari Doni-nya. Tapi untuk sementara, gue udah nggak sabar untuk ngajar si Bangkit menjadi Doni. Reading bersama dan menjelajah ke galaksi-nya Doni.

Sebenernya gue keliatan agak parnoan karena ini film pendek yang cuman 3 menit gitu. Tapi percaya atau enggak, sebenernya, kesuksesan film lo, 80% adalah dari aktornya. Mereka bisa membuat film lo keren banget dan bisa membuat film lo jelek banget. Maka dari itulah gue jadi parno kayak begini karena gue udah sadar banget bahwa skrip yang gue tulis membosankan dan gue membutuhkan aktor yang gokil dan bagaimana penanganan gue terhadap skrip membosankan ini.

Jadi untuk itu, gue ucapkan good luck kepada Bangkit karena sudah masuk ke neraka gue dan bakalan ketemu muka gue lebih sering dari yang gue harapkan. Dan gue juga berterima kasih kepada Teguh Hadi, Tiko dan Josep Alex yang sudah mau repot. Sori, kalian masih belum cocok. Next time kalo gue ada film dan kalian cocok dengan peran gue, gue tau bakalan kemana.

Sabtu, 09 April 2011

Kuliah Film, WHY THE HELL NOT?


Jujur aja ya, gue selalu bangga jaya 100 persen kalo ditanya sama orang gue kuliah apa. Kayak begini pasti dialognya :

Orang : Can, lo kuliah apa?
Gue : (siap-siap melihat ekspresinya) FILM.
Orang : WOW.

Ya. Wow.

Kuliah film emang keren dan asik banget. Assignmentnya gokil-gokil, kelasnya fun dan lo nonton film seharian, NGGAK BAKALAN ADA ORANG YANG KOMENTAR! Itu adalah salah satu sedikit poin positif kenapa lo kuliah film diantara sejuta kelebihan lainnya seperti, lo bisa ketemu idola lo. Entah itu pemain film, sinematografer, scripwriter atau bahkan sutradara.

Sebenernya, gue tau juga sih, gue orang beruntung banget. Pertama, gue bisa mendapatkan beasiswa di kampus gue sekarang dan bisa menekuni sesuatu yang emang udah jadi passion gue banget. Kedua, orang tua gue fine-fine aja dengan keputusan ini yang sebenernya itu masalah hal lain.

Tapi, kalo gue pikir-pikir, kalo misalnya mereka punya uang dan bisa ngebiayain gue kuliah apapun yang gue mau, mereka juga gak bakalan mau nguliahin gue film juga, kayak orang-orang tua konservatif lainnya.

Karena ya film is just simply hiburan. Bukan suatu kerjaan. Orang-orang tua, apalagi yang tinggalnya di daerah kayak orang tua gue, bakalan lebih bangga kalo gue jadi dokter misalnya. Atau PNS (CUIH!). Atau anggota DPR (yang mungkin nyolong liat bokep pas rapat paripurna). Bukan seorang pembuat film.

Padahal menjadi pembuat film, bukan sesuatu yang menyedihkan. Atau memalukan. Dan ngomongin gaji, walopun gak segede anggota DPR, juga lumayan. Lo bisa jalan-jalan keluar negeri gratis kalo film lo kece dan main di festival-festival luar negeri. Dan lo bisa temenan sama artis-artis ibukota yang hot. Mungkin malah bisa jadi teman kencan. Hahaha... nggak penting ya? Tapi, lo ngertilah maksud gue.

Mereka (kebanyakan) menganggap bahwa menjadi pembuat film itu bukan suatu profesi. Mendingan belajar jadi arsitek ketimbang buang-buang duit.

Padahal nih ya, gue kasih tau, menjadi pembuat film itu adalah pekerjaan yang cukup mulia. Lo bisa mendidik satu bangsa. Lo bisa merubah hidup banyak orang.

Lo nggak harus selalu menampilkan pesan moral berbahagia seperti film-filmnya (gue gak mau ngasih nama, tapi kayaknya lo tau siapa), tapi lo bisa menyampaikan sesuatu. Lo bisa memberikan sebuah ide tentang sesuatu. Lo bisa mendidik orang. Kayak Laskar Pelangi misalnya. Lo pikir itu hiburan? Bukan kali. Itu mah kayak gampar pemerintah tentang kecarutmarutan sistem Indonesia yang sangat nggak merata. Lo pikir KALA cuman ngomongin tentang harta karun berjuta-juta yang bisa bikin Fachri Albar meringis bahagia? Bukan kali. Itu mah lagi nyindir politikus Indonesia, MUI dan segala macemnya.

See? Lihat betapa banyak yang bisa lo lakukan hanya dengan membuat film.

Dan, nih yang penting, membuat film yang baik (dan mungkin bagus) sebenernya bisa lo lakuin, apapun background lo. Tapi, seperti yang orang tua ajarkan, alangkah baiknya kalo lo mempelajari secara detail apa yang mau lo lakukan, sehingga lo bisa membuatnya dengan sangat baik.

Banyak filmmaker yang nggak belajar tentang film tapi mereka beken-beken aja. Kayak Tim Burton misalnya. Tapi jadinya, keliatan banget film-filmnya, bagaimana dia mendevelop filmnya, berdasarkan referensi yang dia punya.

Ngerti kan?

Di sekolah film lo bisa jadi belajar tentang penulisan skrip yang baik, cara jadi sutradara yang benar, ngedit yang efektif dan segala macemnya. Mungkin lo cuman pengen jadi produser, tapi bukan berarti lo harus tutup mata soal ini semua kan? Lo harus ngerti juga.

Jadi, menurut gue, udah saatnya lo, kalo lo emang tertarik dengan dunia film dan film adalah passion lo, lo bisa mulai belajar untuk ngerangkai kata, meyakinkan orang tua lo bahwa lo pengen belajar film. Bukan buat senang-senang karena sekolah film itu cool dan tralala trilili, tapi karena ini adalah yang lo pengenin di dunia ini. Bahwa lo pengen menyampaikan sesuatu. Mungkin mendidik orang lain. Mungkin cuman pengen menghibur doang. Nggak papa kan? Emangnya salah kalo lo cuman pengen memberikan 2 jam paling menyenangkan buat orang lain? Nggak dong.

Udah saatnya filmmaker-filmmaker Indonesia menunjukkan bahwa mereka bisa bikin film yang bagus. Bahwa kita terdidik dengan benar. Kalopun emang lo nggak belajar di jalan yang benar, seperti sekolah film, ada banyak cara. Ada banyak buku tentang film. Nggak perlu beli kalo emang mahal. Lo bisa download file PDF-nya di internet yang gue yakin ada sejuta. Sekolah film cuman menuntun lo dengan step-step yang sudah ditata dengan indah. Selebihnya, itu lo sendiri yang menentukan kemana lo bakalan berjalan.

Dan kenapa gue mau mem-posting ini?

Karena gue tau, bahwa ada banyak diantara kalian yang mau mengambil jalan yang gue ambil tapi terhalam oleh bebatuan kecil (atau besar) dan kalian nggak mau ngambil resiko.

Tapi, bukannya hidup itu udah penuh resiko duluan ya?

Kamis, 07 April 2011

Casting Hari Kedua

Kamis malam kemarin, 7-Eleven menjadi tempat gue mengcasting seorang pemuda berstatus mahasiswa jurusan Fisika di UI, bernama Josep. Hihihi... lebay ya.


Yang jelas, gue ditemani dua asisten gue, Henna sama Cynthia, nemuin Josep di 7-Eleven dan nantinya si Adam Dwi nyusul bersama Kania Kasmadi. Terima kasih kepada kalian berdua kalian ngbuat gue jauh lebih nervous daripada yang seharusnya.




Pertama-tama gue mau minta maaf sama Josep karena gue, sekali lagi maksa orang untuk ngerokok sementara dia belum pernah ngerokok. Dan walopun dia udah bilang bahwa dia udah "latian" ngerokok di bis, tetep aja gue ngerasa agak kasian karena gue udah ngerusak anak orang.


Anyway, gue seneng Josep datang karena gue merasa kayak dihargai banget bahwa ada orang yang beneran mau dateng dan niat. Kayak komit gitu loh.


Berikut ini adalah rekaman dokumentasi casting kemarin. Sekali lagi, buat Josep, thank you ya.





ini yang paling duar, pas si josep ngerokok. hihihi... sori ya...


Just Say It Again

Oke, masih ada seminggu sebelum gue menggila ke reading, dan nggak ada salahnya buat gue nyari orang lain buat main sebagai Doni, di film ini.

Syaratnya gampang, cuman :

1. Mau Gak Dibayar (gue menjanjikan experience yang mengagumkan)
2. Umur 20-an (gak harus 20-an, yang penting bisa KELIATAN 20-an)
3. BISA MEROKOK (kesian kalo gak ngerokok dan gue paksa2)
4. Mau bekerja keras dan komit

masalah tampang dan kekuatan akting sih relatif, gue bisa memoles. Mudah-mudahan.

Kalo emang tertarik, hubungi gue melalui email di erma_azam@yahoo.com atau twitter : candra_aditya atau facebook : facebook.com/candra.aditya.

Thanks.

Kehadiran kalian sangat gue nantikan.

Rabu, 06 April 2011

Casting Hari Pertama

Jadi, kemarin di sebuah cafe bernama Coffee Toffee di sekitaran Hang Lekir (jalan depannya Moestopo) gue mengadakan casting pertama gue.


Bagaimana rasanya? Tentu saja sangat deg-degan nggak jelas karena emang ini casting gue yang pertama dan gue bener-bener bisa in-charge judging seseorang tanpa mendapatkan label judgemental. Hahaha... nggak juga sih sebenernya. Cuman karena emang ini sangat mendebarkan, seru dan fun.


Yang paling keren adalah fakta bahwa gue membuat pengumuman kecil yang actually beneran ada orang yang mau ikutan partisipasi dan mau jauh-jauh datang untuk gue casting dan gue suruh ngerokok. Ini membuat gue terharu sekaligus bahagia.


Oke, yang pertama datang kemarin adalah Hadi. Dia unyu banget dan passionate soal main di film gue. Kita end-up ngomong banyak hal. Dan gue curhat colongan tentang banyak hal. Gimana gue, gimana masa depan film ini, kenapa gue memutuskan bikin film ini dan lain sebagainya. Dan dia nonton film gue yang breaking-up date (in case kalian belum nonton, kalian bisa melihatnya di link di bawah). Dan setelah itu, dia baca skripnya. Lengkap dengan merokok.


Mungkin gue keliatannya sok cool, padahal gue observasi parah. Bagaimana tangannya gemetar pas megang rokok dan ngisepnya kayak orang lagi mabok. Dia emang bilang sih bukan perokok.


Sampai akhirnya dia bilang bahwa DIA MEROKOK UNTUK PERTAMA KALINYA.


Wah, gawat. Gue ngerusak anak orang. Hahaha... nggak heran, dia ngerokoknya kayak orang kalap. Hihihi... dan gue sangat minta maaf atas hal ini. Setelah itu dia pulang. Thank you atas partisipasinya.


Berikutnya yang datang adalah Tiko, seorang blogger terkenal. Pecinta film. Lima menit kita duduk, kita udah ngebahas Inception sama Nolan. Lebih lama kita duduk, kita udah berpindah ke Lars von Trier. Dan kita ngetos bersama karena gue, Henna sama dia belum liat The Godfather Trilogy. Hahaha...




Tiko merokok dengan wajar. Hahaha... tentu saja gue harus menjelaskan ini. Setelah sebelumnya gue ngerusak anak orang, gue nggak mau dibilang perusak moral bangsa. Jadi, terimakasih Tiko karena udah mau audisi di film gue.


Casting terakhir adalah besok bersama Joseph Alex. Gue nggak sabar untuk menggila.


Dan ngomong-ngomong, buat kalian yang tertarik untuk ikutan casting, masih terbuka kok. Yang gue cari cuman cowok umur 20-an, BISA MEROKOK, dan mau kerja nggak dibayar. Hihihihi...


Berikut ini adalah dokumentasi casting gue kemarin





Breaking-Up Date Short Movie

Kamis, 31 Maret 2011

Open Casting

OKEEE... INI DIA SAATNYA!


Setelah breakdown script dan menemukan lokasi, tibalah kita disaat yang paling ditunggu : casting untuk film gue!


Catet nih, buat kalian yang mau main di film gue, mau gak dibayar kecuali rokok dan makan, silahkan dengarkan saya :


Dibutuhkan cowok,

umur 20-an,

indonesian looks

dan punya wajah-wajah yang bisa ngetik di depan komputer.


Oke, sesimple itu.


Jadi... kalo kalian mau mendapatkan pengalaman yang sangat bombastis, kalian bisa mengirimkan apapun ke email atau facebook saya : erma_azam@yahoo.com.


Gue sangat menantikan kallian!


Salam,

Candra Aditya

Directing 101 : Directing Actor

Setiap kali lo mendengar orang menyebtukan profesinya, yang terjun dalam dunia film, terutama jadi sutradara, biasanya lo bakalan bilang, "Wah, asik tuh." Dan mungkin ditambahi dengan, "Eh, gue main ya di film lo."


Pada kenyataannya jadi sutradara itu nggak segampang kedengerannya. Walopun lo mungkin benar tentang soal kekerenannya. Bukan berarti pekerjaan lain nggak keren. Tapi menurut gue pribadi, jadi sutradara lebih keliatan exciting ketimbang jadi... akuntan misalnya.


Ngedirect film lo harus tahu tentang keseluruhan film, mulai dari shot, editingnya kayak gimana dan segala macem. Tapi, yang paling mendebarkan ternyata adalah mendirect orang asing.


Rasanya weird, dan lo harus memerintahkan mereka untuk berakting sesuai dengan bayangan lo tapi lo nggak bisa langsung mendiktekan apa yang harus mereka lakukan.


Dan gue akhirnya mencoba untuk membawa skrip gue, diambil dari salah satu adegan di buku gue "Marshmallow" versi extended (yang bisa kalian dapatkan kalo kalian ngasih gue duit... hahahaha, becanda. Ini adegan terjadi sebelum Ayu dan Sugeng menikah). Yang gokil dari kegiatan ini adalah lo jadi tau apa yang salah dengan skrip lo kalo dialognya terlalu unyu atau nggak jelas.





Gue merasa sangat menggila karena ternyata ngedirect orang nggak segampang itu walopun gue puas dengan hasilnya.




Kalian bisa melihat videonya, disini :

Kamis, 24 Maret 2011

Brainwash

Kemaren di kelas directing, dosen gue yang gokil parah, Mouly Surya bilang bahwa kita harus, at least, ngasting orang yang bakalan main di film kita. Kalopun kita udah deal sama satu orang, nggak ada salahnya untuk keep looking.

Aktor punya pembawaan yang berbeda dengan karakter. Mereka punya referensi, background dan intelektual yang berbeda. Jadi, ya emang bener. Dan ini bisa jadi menyenangkan karena kita bisa keep rewriting our script. Kalo misalnya ada line atau hal-hal kecil sampe ke main thing tentang karakter yang gak sreg, kita bisa ganti karena kita melihat begitu banyak orang mencoba memerankan karakter kita.

Oke, kita ngomongin hal lain dulu.

Abis kelas, gue sama Citra dan temen-temennya dan satu mantan produser gue di "Breaking-Up Date" pergi ke De Hooy dan kita minum Brainwash yang premis-nya membuat kita drunk hanya dengan segelas. Sementara kita end-up dengan sekitar 4 pitcher.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana wasted-nya kita kemaren.

Tapi, yang paling gue ingat adalah apa yang gue omongin sama si Farman, salah satu temen Citra yang asik banget. Dia kuliah crime di San Diego dan akhirnya ke Jakarta, walopun gak lulus.

Yang fun adalah apa yang kita omongin tuh sangat random mulai dari Spielberg, Tarantino, film horor, kepercayaan agama sampe hal-hal nggak jelas kayak S&M dan semacamnya.

Dan si Farman akhirnya bilang, "Kalo lo bikin film, gue mau dong main di film lo."

Gue langsung bilang, "Oh ya, emang gue belum ada dua peran dalam film gue."

Farman : "Beneran ya?"

Gue : "Gampang."

Arja yang sebenernya mabuk ikutan nimbrung. "Alah, Can, lo bilang gitu karena lo mabok."

Gue : (nyolot) "Nggak. Nggak kok."

Dan setelah gue pikir-pikir, kenapa nggak nge-cast Farman di film gue?

Bukan peran utama tentu saja, tapi Ronan, peran yang gue tawarkan ke Farman, adalah peran yang lumayan oke. Dia kakaknya si Doni, peran utama dan dia kayak harus bisa nunjukin kerese-annya dengan elegan. Dan Farman gokil parah. Jadi, why not?

So, guys, inilah bentuknya Farman :





Nggak sama persis dengan bayangan Ronan di otak gue, tapi dia bisa merepresentasikan Ronan dengan asik.

Jadi, tinggal mencari Doni.

Dimanakah dirimu>

Hi, There

Oke, guys.

Karena gue sok-sokan mau jadi filmmaker yang gokil dan mengarsipkan apapun yang dia pikirkan, gue memutuskan untuk membuat blog ini khusus untuk film pendek gue yang judulnya "Break". Ceritanya simple aja, tentang seorang cowok yang mencoba untuk berhenti merokok. (Kalian bisa download skripnya di : http://nggacor.multiply.com/journal/item/457)

Hanya ada tiga orang pemain dalam film ini. Tentu saja peran utamanya, Doni, cowok umur dua puluh tahunan. Kakaknya, Ronan, umurnya juga dua puluhan. Dan pacarnya Doni, si Caca.

Nah, untuk peran Caca ini, gue udah kasih peran ke temen gue. Lebih tepatnya, pacarnya temen gue. Gue emang nulis karakter ini khusus buat Caca. Pas gue lagi duduk di Circle K dan galau, ada Gamma sama Caca dateng. Dan gue basa-basi bilang sama Caca kalo gue bikin film dan dia bilang bahwa dia mau main di film gue. Ya sudahlah. Gue bikin satu peran khusus buat Caca. Karena... Caca cantik dan gue suka aja dengan gaya dia. Kayak unik dan keren aja gitu.

Sekarang gue masih agak-agak panik karena gue belum nemu pemeran utama gue, tapi masih panjang sih waktunya. Dan gue juga belum hunting lokasi.

Nah, ini dia fotonya Caca :






Lucu kan?

Jadi, kalo kalian bakalan main di film gue, you get to see this girl and pretend to be her boyfriend. HAHAHAHAHAHA... Sayangnya dia udah punya cowok. Jadi, ya boleh diliat, dipegang jangan. Garing ya?

Okeh. Sampai segini dulu. Kelas udah mulai.

Salam hangat,

Candra Aditya