Jumat, 01 Juli 2011

Houdini

The wait is over.

Gue nggak ngomongin tentang kedatangan final battle Harry Potter. Ngga. Untuk itu, kita cuman bisa berdoa dan berharap bahwa siapapun yang bertanggung jawab atas mangkirnya final saga Harpot di Indonesia disiksa sekejam-kejamnya di dunia (dan kalo akhirat ada, di akhirat).

Gue ngomongin tentang nasib film pendek assignment gue, “Break”.

Setelah lama menanti, setelah pre production yang melelahkan dan sangat tidak optimal. Setelah proses produksi yang melelahkan dan post production yang menghabiskan air mata, tibalah waktunya untuk actually world premiere. Bahwa film ini akhirnya harus ditonton oleh masyarakat. Untunglah bahwa dosen-dosen gue sudah mempersiapkan mental gue untuk yang terburuk. Komentar mereka yang jujur membuat gue tau bagaimana cara bersikap ketika ada orang yang tereak ke muka lo dan bilang, “This isn’t work.”

Gue bangun agak pagian karena ada sesuatu yang gue kerjakan. Dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya antara gue dan Iqbal dan Mike, kita memutuskan untuk tampil rapi jali. Gue memakai jaket terbaik gue, jeans terbaik gue dan kaos terbaik gue (yang semuanya kayaknya bukan gue sendiri yang beli).

World premiere. Semoga seru.

Gue udah mengundang seluruh cast gue. Dewa tidak membalas. Bangkit katanya masih tentatif. Dan Caca pasti dateng, secara dia membintangi separuh film classmates gue. Tata juga pasti dateng. Namanya tercantum di tiga film. Dan tentunya tiga executive producers gue yang cantik : Nisa, Arinta, Qorina.

Ok, here we go.

Gue nyampe agak pagian dan ke Ratu Plaza untuk beli DVD Blank dan CD Case buat ngeburn film gue dan bakalan gue kasih sama crew dan cast gue. Akhirnya gue nyampe di kampus setengah empat, setengah jam sebelum acara dimulai.

Anti klimaks. Gue ngebayangin acaranya full-packed seperti Premiere Ayat-Ayat Cinta atau semacamnya, ternyata yang dateng baru Citra, Devy sama sodaranya, Cynthia Rulin dan Iqbal. Mana yang lainnya?

Ah, ngga seru. Dan ternyata emang tidak serame yang gue kira. Gue menyalahkan hujan, bukan karena emang acara world premiere gue sama anak-anak bukan acara penting.

Tibalah kata sambutan blablabla dan grup pertama. Selalu grup gue. Film Citra diputar, kemudian film Mike, kemudian film Iqbal. Dan terakhir film gue.

Deg-degan. Nggak bisa keringetan karena AC di kampus kenceng oke.

Dan film diputar. Ketika layar muncul countdown, temen gue nyeletuk, “Tengil banget lo pake countdown segala...”

Gue membalas, “Lah, katanya Miss Mouly emang dikasih countdown.”

Lagian keliatannya emang seru aja sih kalo dikasih countdown. Kesannya kayak nunggu apa gitu. Dan film gue mulai.

Gue sih udah bosen anjing. Maksud gue, gue udah liat berjuta-juta kali. Ampe bosen dan beneran muak. Literally sick.

Gue menunggu respon aneh seperti, “Apaan sih ini, lightingnya bikin sakit mata!” atau “Ini linear atau non-linear sok-sokan ala QT?”

Ternyata tidak. Mereka tenang. Cool. Atau mereka ngga peduli? Nggak tau juga sih. Tapi pas ending dimana akhirnya ada twist dikit, mereka ber-ooh ria. Pelan sih, tapi membuat gue langsung keranjingan dan berteriak dalam hati, “Siiippp...”

Datanglah momen Q and A yang sangat nggak menyenangkan karena bahasa inggris gue sama bagusnya kayak idiot.

Dan ada nih satu bule yang akhirnya bilang bahwa, “I like the last film the most...” yang langsung membuat gue menutup pendengaran lainnya kecuali baris kalimat tadi yang menurut gue kayak nyanyian duyung.

Dan dia nanya sama gue, bagaimana gue kerja sama dengan sound departmen, lighting dan semuanya dan tentang konsep gue?

Mampus.

Gue sih bisa langsung oke ngejelasinnya pake bahasa indonesia raya merdeka ini, tapi in english. Gue jadinya kayak Dori di Finding Nemo yang kadang-kadang kena short term memory lost.

Tapi yang jelas, bahwa ada orang yang suka dengan attempt gue untuk membuat “Break” menjadi film yang mendingan daripada aslinya (sumpah, gue ga lebay, tapi i really hate the script). Dan karena “Break” adalah salah satu upaya gue untuk memberikan penghargaan kepada film-film jadul kelas B yang sangat gue kagumi seperti Suspiria, semua film horor jaman dulu dan terutama film-filmnya Ibu Suzzana tercinta.

Dan mengenai scoring. Itu bukan gue yang pintar atau apa. Komposernya aja yang jenius.

Dan tentu saja, semakin sering lo menonton film lo sendiri, keinginan untuk mengubah waktu semakin menjadi-jadi. Lo semakin tahu shot-shot apa yang seharusnya ada tapi nggak ada. Apa yang perlu ditambah, apa yang mesti diilangin dan sebagainya.

Bikin film, ya, semakin membuat gue semakin menyenanginya. Melelahkan, tapi fun. Dan gue langsung tau dimana kesalahan gue dan gue, Insya Allah, nggak bakalan mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Dan tentu saja, ngedenger orang komentar tentang film lo, meskipun itu jelek atau bagus (terutama kalo bagus), bakalan ngebuat lo menggelinjang setengah mati.

Sori, guys. Gue nggak bisa ngupload ke youtube karena satu dan lain hal. Tapi kalo penasaran mo liat, bisa sih kita ketemuan, nonton bareng atau gimana (yaelah, emang gue siape?).

Dan ini terakhir kalinya gue bilang terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang bantuin gue. Kru, cast, dosen-dosen, semua orang yang ngebantu gue.

Regards,

Candra Aditya

Senin, 27 Juni 2011

Its Alive

Hai kawan-kawan...

Sepertinya sudah lama sekali gue nggak berkunjung dan mengabarkan sesuatu tentang film "kecil" yang berjudul "Break" yang gue buat dengan sangat hati-hati.

Final Cut sudah selesai dan semua dosen yang terlibat sudah melihat hasilnya. Banyak komentar positif, mixed dengan kritik yang membangun dan terutama pertanyaan "motivasi lo apa?" yang tiap orang tanyakan setelah menonton "Break".

Its ok, gue nggak bakalan marah atau banting-banting barang. After all, ini adalah belajar.

Aniwei, tanggal 30 Juni 2011 ini, bertempat di ruang 310 kampus gue, Binus International JWC (sampingnya Moestopo, deketnya Senayan City) bakalan diadakan yang namanya PUBLIC SCREENING untuk film-film anak Binus dan bakalan ada Q and A. Kalian bisa nanya apapun.

Gue mengundang cast gue untuk datang dan kalian yang tertarik (DM gue dulu ya di @candra_aditya) untuk nonton film gue.

Jadi itu saja sih. Tapi bukan berarti perjalanan "Break" bakalan berakhir disini. Mungkin saja suatu hari nanti "Break" masuk festival film absurd atau semacamnya. Hahaha...

Ok, me signing out.

See you Thursday.

Kamis, 09 Juni 2011

Something To Die For

Hari ini hari terakhir di semester dua gue kuliah film yang gue bangga-banggakan.

Tapi, gue nggak bakalan cerita tentang hal itu. Terlalu menyedihkan. Maksud gue, menyedihkan karena ada kelas Film Artistic yang dibintang utamai oleh Mr. Dhani Agustinus tapi pesertanya cuman gue, Cynthia, dua alien itu dan Iqbal (yang tentu saja dateng 15 menit sebelum kelas berakhir). Tujuan kelas ini di hari terakhir adalah semua orang tahu tugas buat Final Semester Assignment dan... kelas improvisasi : dimana akhirnya Mr. Dhani ngeliat hasil film kita dan melihat mise-en-scene-nya.

Maksud gue, emang film kita ada mise-en-scene-nya? Well, gue sih merasa punya gue nggak ada.

Oke, lupakan itu. Gue mau menceritakan hari akhir penjurian American Idol.

Deg-degan? Iyalah, gue manusia. Kalo nggak deg-degan gue mayat berarti kayak Edward Cullen. (Anjrot garing banget gue).

Tapi, apakah sedeg-degan waktu Rough Cut? Nggak. Gue lebih lega. Bukan, bukan karena film gue bagus. Justru sebaliknya, semakin banyak lo menghabiskan waktu di ruang editing, semakin bete lo sama film lo sendiri. Gue tuh kayak udah, “Ah, Bangkit bacot lo dari tadi.” Padahal di film itu Bangkit cuman ngomong 5 line sepanjang film.

Gue lega karena apa ya... ya akhirnya inilah waktunya. Untuk dinilai oleh dosen-dosen gue yang hebat itu. Dosen directing, Miss Mouly. Dosen editing, Mr. Robin. Dosen sound, Miss Illa. Dosen Production, Miss Tika. Dosen-dosenan, Mr. Ekky. Sama kepala jurusan gue, Sebut-Saja-Mawar.

Film diputar dan...

...kalo ini AFI, bakalan ada lonjatan yang cukup signifikan di bagian sms.

Yang artinya, katanya sih ada kemajuan dari versi sebelumnya. Lebih enak diliat. Dan semua-semua pujian yang membuat gue merasa “ah-apaan-sih-lo” Barney-Stinson-Style.

Tapi yang the best dari semua itu adalah...

...gue suka banget bahwa mereka semua menyebutkan banyak kekurangan dan saran-saran yang oke.

Banyak orang yang gak suka kritik. I know, dikritik rasanya menyebalkan sekali. Lo kayak pengen tereak di depan mereka, “Ah bacot lo, Anjing.”

Tapi sebenernya, kalo kritiknya membangun dan membuat lo merasa lebih enakan, kenapa enggak? Itu satu, yang kedua, kalo yang ngasih kritik emang orang yang TAHU BENER tentang hal begituan, bukannya itu ilmu yang sangat bermanfaat ya? Tiga, karena kritik itu emang perlu. Kalo lo keterusan dipuji, lo nggak bakalan nginget untuk stay nginjek tanah which is hal yang paling lo butuhkan agar nggak mendapatkan julukan songong.

Hal inilah yang membuat gue suka. Karena menurut gue, inilah pembelajaran yang sebenernya. Supaya lo tau kesalahan lo dan tahu bagaimana menghindari hal itu di kemudian hari. Jangan biarin Neril merusak makna film lo. Jangan melenceng dari shot list. Jangan lupa bikin shot list yang beneran efektif. Jangan lupa rehearsal. Jangan lupa, jadi director itu tanggung jawabnya besar dan bagusnya, dalam mendirect aktor, lo beneran memunculkan karakter dalam diri talent lo.

Tahu sih gue, bahwa perjalanan masih panjang. Dan film gue ini jauh dari sempurna, tapi one last attempt to make it better because I owe you guys (especially my cast, and my crew, maybe. And myself, haha) to make it as better as possible. Dan terutama gue pengen bahagiain bokap gue bahwa gue ke Jakarta ada hasilnya, bukan hanya berubah menjadi perokok, pemabuk dan pervert.

Anyway, film ini TIDAK AKAN gue upload ke youtube. Jadi yaaa... kalo pengen liat, ketemuan aja (hahahahaha). Dan bakalan ada screening di kampus gue, yang bisa kalian datangi, kalau kalian berkenan datang.

XOXO,

Candra Aditya

Sabtu, 04 Juni 2011

Scoring Time Part II

Hari kedua scoring nih.

Hari pertama masih coba-coba berhadiah. Hari kedua ini beneran nyoba untuk scoring.

Nah, setelah menemukan referensi dari Trent Reznor (SUMPAH, KALO DIDENGER, KALIMAT INI KEDENGERAN SANGAT SONGONG), kali ini kita langsung hajar. Maksudnya lebih gue bacot dan si Boy menghajar keyboardnya.

Apparently, kerja sama musisi jauh lebih susah dari yang gue kira. Karena gue tau apa yang gue mau, tapi gue gak tau gimana cara bilangnya. Kayak gue nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Untunglah Boy orangnya sangat okeh, jadinya cukup memuaskan.



At some point, kita bikin nada kayak detak-detak jantung nggak jelas yang... sangat mirip dengan nada-nada yang dibikin sama Hans Zimmer di Inception. Dan gue sama sekali gak kepikiran sama Inception karena konsep gue sama Inception beda gila.

At the end of the day, kita bikin 3 tema musik untuk 4 sequence (salah satu sequence bakalan make tema yang sama dengan yang salah satu sequence).

Cross fingers, semoga match dan jadi keren filmnya!

Dibawah ini ada dokumentasi pembuatan scoring kita yang direkam oleh Angkasa Ramadhan :

Kamis, 02 Juni 2011

Scoring Time

Hai, guys... sudah lama rasanya saya nggak berbincang kepada kalian semua mengenai perkembangan film "Break".

In short, "Break" sudah menemui titik terang dalam hidupnya karena sudah PICTURE LOCK (buat kalian yang belum tahu istilah ini, picture lock artinya dimana semua tahapan editing sudah finish. Di film feature biasanya agak alot untuk sampai di posisi ini karena ada banyak kepala yang memutuskan mulai dari sutradara, produser atau mungkin executive producernya kalau dia sangat berkuasa. Kalau sudah pic-lock, berarti urutannya NGGAK BOLEH diacak-acak lagi karena... akan membuat bagian sound menggila. Tugas sound setelah pic-lock adalah nge-sync dialog dan memberikan "nyawa" berikutnya kepada film dengan memberikan scoring, soundtrack, foley segala macem termasuk mungkin visual effect dan animasi). "Break" berdurasi 4 menit 26 detik.

Walopun ini semua ternyata masih belum se-pic-lock itu karena ada "penjurian" terakhir dimana dosen-dosen gue akan mengatakan apa yang mereka pikirkan untuk memperbaiki film gue.

Jadi, karena film gue sudah pic-lock, saatnya mencari komposer bispak untuk memberikan scoring kepada film saya. Pada awalnya gue memikirkan temen gue yang sangat berbakat dalam hal ini, Gamma Patriono. Akan tetapi, Angkasa yang mengajak gue ke tempat Boy yang mana juga jenius musik, membuat gue terbuai untuk melihat apa yang bisa dia lakukan dengan film gue.

Jujur saja, gue nggak ada bayangan sama sekali tentang musik untuk film gue. Well, bukannya gue buta 100% karena gue punya satu spesifik referensi untuk satu sequence dimana rokok adalah setan. Gue menggunakan lagu yang lumayan creepy dari salah satu music scoring "Suspiria" yang judulnya "Celesta and Bells".

Dan ketika Boy nanya gue maunya kayak gimana, gue beneran gak tau jawab apa. Sampe akhirnya gue mencoba ngulik-ngulik winamp gue dan menemukan bahwa...



...scoring Social Network (yang posternya sengaja gue pampang di depan Doni) yang dibuat dengan maha jenius oleh Trent Reznor dan Atticus Rozz ternyata sangat-sangat-sangat oke untuk dimasukin di film gue.

Gue nggak nyangka. Maksud gue, gue tau banget kalo gue suka banget sama David Fincher. Gue cinta sama Social Network. Tapi gue nggak nyangka kalo scoringnya ternyata menginspirasi gue untuk menambahkan sesuatu dalam "Break".

Tadi emang masih belum direkam, masih sekedar ngobrol sana-sini. Rencananya besok gue bakalan make Boy lebih lama untuk mem-finishkan musik "Break".

Cross fingers.

PS : Scre4m udah tayang by the way. Apakah kalian sudah menonton? ITS WORTH WATCHING.

Rabu, 25 Mei 2011

Enter The Void

Bagaimana rasanya setelah lo syuting film lo dengan penuh emosi jiwa dan raga terus dosen lo, yang tentunya sudah pakar di bidangnya, mulai memberikan pendapat mereka tentang film lo? Deg-degan sih udah bumbu wajib ya. Dan lo bahagia parah ketika mereka bilang "Gue suka ini... Gue suka itu..."

Tapi begitu mereka bilang "...bagian ini gak penting dan nggak work aja...", walopun lo tau mereka benar, lo rasanya pengen ngunyah silet di tempat. Sakit banget. Tapi ini nggak benar. Lo gak boleh personal dan DENGARKAN mereka, itu yang penting. Karena mereka bilang gitu bukan karena mereka pengen lo jatoh dan ngemut paramex seharian, tapi mereka pengen film lo work lebih perfect.

Setelah 2-3 harian, lo udah mulai calm dan saat itulah saat yang paling ngadem untuk mulai ngedit film lo lagi.

Nyalakan yang namanya final cut pro, dan kalo lo kayak gue yang kenalan pertamanya pake premiere, kenalan pertama dengan final cut pro memang tidak begitu nyaman. Masih ada momen kinjong-kinjongan gak jelas dan rasa pengen tereak, "Kentot lo final cut pro, gue sunat abis, mampus lo!" Tapi, yang namanya youtube digunakan nggak hanya untuk ngintip Rebecca Black sama Justin Bieber aja, tapi juga untuk ngintip tutorial-tutorial gokil yang mungkin lo butuhkan.

Setelah udah oke, ketika lo masuk editing room, baca lagi catetan lo tentang apa yang dosen lo (atau dalam kasus lo, mungkin saja mentor/teman lo) tentang pendapat mereka dan PERBAIKI di versi ini.

Nah, kali ini, kalo dosen lo jago ngedit (temen lo juga boleh), lo bisa minta bantuan dia untuk menceritakan cerita lo itu dengan baik. Karena pada akhirnya, editing adalah penceritaan ulang. Skrip yang udah FINAL DRAFT itu bisa saja diobrak-abrik lagi susunannya dan mungkin beberapa makna, efek dan meaningnya jadi berubah. Tapi, jangan khawatir, itu semua dilakukan untuk yang terbaik.

At least, itulah yang gue rasakan. Segedek apapun ketika lo mendengar orang-orang bacot soal kerja keras lo di film barusan, ketika lo melihat hasil editan terbaru dan emang lebih sreg, ringkas dan enak diliat, lo berasa pengen meluk siapapun yang bilang nggak perfect barusan. Dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.

Anyway, film gue masih jauh dari kata picture lock sih tapi sudah mulai mendekati. Ada beberapa decision editing yang kelasnya kelas wahid, ada juga yang simple. Yang wahid mungkin adalah keputusan gue untuk nggak "menjadulkan" semua footage film gue. Kan gue udah sok-sokan pengen ala 80-an dengan kasih efek 80-an. Tapi setelah gue coba, nggak begitu bagus hasilnya. Jadi, yang gue kasih cuman opening credits sama credit title aja.

Mungkin itu sih my big decision. Sama syuting ulang kemarin, adegan insert shot nggak penting imel-imelan, karena yang kemaren kata-katanya kurang tajam, setajam silet.

Dan gue sudah menemukan soundtrack buat ending film gue yang dimainkan oleh, tidak lain dan tidak bukan, The Mischievous. Mad Empire adalah judul lagunya dan itu sangat EPIK.

Oke, see you soon. I'll tell you another tale.

Sabtu, 21 Mei 2011

Bang Bang

Hari Kamis, kelar kelas Directing, setelah makan tentunya, gue sama Angkasa langsung ngejogrok di depan ruangan 303, kencan dengan laptop dan Premiere sampe jam setengah sepuluh.

Raihan jadi teroris sampe akhirnya kita berangkat ke CK jam setengah sepuluh dan ketemuan sama Raihan di CK Cikajang. Setelah gila-gilaan bentar, Citra dan Bieber datang dan kita mulai mengedit.

Tentu saja, kita bener-bener tidak peduli dengan keadaan sekitar. Perhatikan ini, yang bakalan terjadi di dekat orang yang sedang mengedit : mereka bakalan melakukan hal-hal gila seperti dzikir “anjing” dan “kentot”, nyanyi sendirian, ketawa sendirian, nangis sendirian, nari sendirian. Jason Mraz style : we sing, we dance, we steal things.

Setelah itu, jam 4 pagi, karena kesian sama mas-mas CK juga, kita cabut. Citra ke rumahnya, Bieber balik ke kosannya, gue, Angkasa dan Raihan ke rumahnya Raihan yang kalo bisa gue bilang adalah rumah impian. Kayak rumah-rumah di film silat Indosiar. Dengan taman di depan rumah yang sangat hijau, lengkap dengan ayunan segala macem. Dan begitu masuk ke kamar Raihan dan ranjang yang menggoda, gue semakin pengen tidur. Malem sebelumnya hanya tidur 2 jam dan hari ini tidak ada tidur. Tentu saja ranjang itu terlihat sangat menggoda.

Untuk itulah (dan kamar itu tingginya 5-6 meter, memberikan kesan klaustropobik) gue menyalakan MTV dan E! Untuk menjaga mata gue melek. 30 Second to Mars dan kenapa lo mesti tau dengan hubungan Khloe dan Lamar adalah sesuatu yang membuat gue melek. Tapi yang paling bikin gue melek adalah kenyataan bahwa Ashanty semakin dekat dengan Anang Hermansyah setelah duet bersama dan mencampakkan Syahrini tapi tidak sedekat itu karena Ashanty tidak menemani Mas Anang potong rambut.

Dan tiba-tiba udah jam 7 malem yang ditandai dengan pembantu Raihan masuk ke kamar, memberikan nasi goreng bertelor mata sapi dan bersosis ala Shinta-Jojo. Gue beneran merasa kayak Donald Trump walo hanya beberapa detik. Maksud gue, kapan lagi lo menikmati sarapan di ranjang dengan MTV menyala? Dan jangan salahkan gue kalo pas gue mandi di kamar mandi Raihan, gue kayak anak udik merem di bawah pancuran air panas dan setelahnya melakukan cita-cita gue mengaca di cermin yang berembun yang mengharuskan gue menyentuh cerminnya dulu supaya embunnya ilang, Kate Winslet style. Kayak di Titanic.

Nyampe di kampus gue muntah. Bukan karena semua guru ngumpul di ruangan yang sama dengan notes di pangkuan mereka. Ada Mr. Ekky, ada Mr. T, Ada Miss Mouly, Ada Adilla, Ada Robin adan Miss Tika.

Semuanya udah parno duluan. Ehmm... mungkin sama orang yang nggak pernah tidur di rumah makanya dia bisa tidur dimana aja yang dia mau, yang keliatannya cool aja seperti biasanya. Maksud cool disini adalah tidur di kelas like usual.

Dan grup kita, grup ITC dateng pertama. Mike keliatan cool (filmnya tentang anak yang ngebaks dan bad trip), Trus Citra (yang menceritakan tentang hubungan lo sama Tuhan dengan cara yang paling gak lo pikirkan), trus gue.

FYI, sebelum hari ini, gue udah mikirin semua jawaban atas perkiraan pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan kayaknya pasti bakalan ditanyakan. Terutama kalo lo udah liat film gue.

Yang ternyata... tidak hanya pertanyaan. Mereka cuman bilang banyak sekali input dan comment tentang “roller coaster eksperimen” yang gue lakukan di film gue. Yang tentu saja sangat membantu gue untuk mengumpulkan ide-ide baru di editing selanjutnya dan beberapa hal yang memang udah gue tau duluan seperti kenyataan bahwa ngedirect aktor itu susahnya kayak taik.

Jadi, rasanya kayak thank you karena mereka nggak nanya ini, nanya itu. Walopun mungkin saja mereka bakalan melakukannya di kelas masing-masing.

Dan gue sangat suka dengan kata “improvement” keluar dari mulut seorang Miss Mouly Surya. Maksud gue, itu kayak duar banget buat gue. Gue harus bekerja lebih keras buat ngedirect aktor karena itu memang penting dan pe-er gila-gilaan. Gue harap, gue masih punya banyak waktu kan? Dan gue juga punya banyak hal yang harus gue lakukan di editing buat final cut.

Dan sebenernya kenapa gue melakukan seperti yang gue lakukan di film gue sih sebenernya bukan karena gue sok tengil atau gimana. Miss Mouly bener banget, lo terjun di sebuah area dimana talent is overrated. Tapi gue pengen banget pushed my boundaries. Maksud gue, gue sekolah kan bergantung sama nilai-nilai gue yang mana harus gue dapatkan sesempurna mungkin demi masa depan gue, yang mana semakin lama semakin berat gue rasakan karena makin hari gue semakin less optimist.

Dan jam 4 mereka mendrop bom yang terdiri dari ratusan kalimat kepada semua orang. Terutama tentang drama dan attitude anak film pas syuting film dan gue nggak bisa melupakan satu kalimat atau satu topik yang salah satu dosen bilang.

Gue nulis ini bukan karena gue sok-sokan ngebela diri sendiri ya. Gue tau, gue salah gila. Dan tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, gue masih manusia. Jadi, masih agak bisa dimengerti kalo kita lupa satu atau dua hal. Tentang insiden kenapa-gue-lupa-ngajakin-Bangkit-satu-satunya talent-gue-untuk-gabung-makan-setelah-wrap-syuting. Yang terjadi karena gue capek gila dan pleng-plengan lupa dan gue juga masih emosi jiwa karena syuting adegan terakhir gue gak ada puas-puasnya, keadaan chaos dan gue semakin nervous diliatin begitu banyak orang ngedirect adegan itu. Tentu saja gue lupa. Dan Bangkit juga udah capek dan mau pulang. Jadi kita berdua lupa. Dan tentu saja gue nggak melakukan itu DISENGAJA. Maksud gue, itu adalah hal pertama yang ada di otak gue : treat talent gue dengan hormat dan enak.

Tapi, sebelum orang-orang semua bilang, gue udah guilty duluan dan malem itu gue sms Bangkit dan bilang bahwa kita pasti bakalan ketemuan lagi karena gue masih butuh rekaman suara lo dan gue pasti BAKALAN NRAKTIR LO, dan dia bilang, “Santai aja, Bro. Slowww...”

Dan dengan duit hanya 15 ribu pas pulang dan gue ngantuk berat, gue nggak tau harus ngapain, gue memutuskan untuk tidur jam 7 malem dan bangun jam 6 sore keesokan harinya. Dan ini adalah sebuah pesan buat kalian yang tidak makan apapun selama kurang lebih 35 jam, jangan bangun langsung berdiri. Penglihatan lo bakalan jadi hitam semua.