Hai kawan-kawan...
Sepertinya sudah lama sekali gue nggak berkunjung dan mengabarkan sesuatu tentang film "kecil" yang berjudul "Break" yang gue buat dengan sangat hati-hati.
Final Cut sudah selesai dan semua dosen yang terlibat sudah melihat hasilnya. Banyak komentar positif, mixed dengan kritik yang membangun dan terutama pertanyaan "motivasi lo apa?" yang tiap orang tanyakan setelah menonton "Break".
Its ok, gue nggak bakalan marah atau banting-banting barang. After all, ini adalah belajar.
Aniwei, tanggal 30 Juni 2011 ini, bertempat di ruang 310 kampus gue, Binus International JWC (sampingnya Moestopo, deketnya Senayan City) bakalan diadakan yang namanya PUBLIC SCREENING untuk film-film anak Binus dan bakalan ada Q and A. Kalian bisa nanya apapun.
Gue mengundang cast gue untuk datang dan kalian yang tertarik (DM gue dulu ya di @candra_aditya) untuk nonton film gue.
Jadi itu saja sih. Tapi bukan berarti perjalanan "Break" bakalan berakhir disini. Mungkin saja suatu hari nanti "Break" masuk festival film absurd atau semacamnya. Hahaha...
Ok, me signing out.
See you Thursday.
Its not as easy as it looks. Coming Soon. Written, Produced and Directed by Candra Aditya.
Senin, 27 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
Something To Die For
Hari ini hari terakhir di semester dua gue kuliah film yang gue bangga-banggakan.
Tapi, gue nggak bakalan cerita tentang hal itu. Terlalu menyedihkan. Maksud gue, menyedihkan karena ada kelas Film Artistic yang dibintang utamai oleh Mr. Dhani Agustinus tapi pesertanya cuman gue, Cynthia, dua alien itu dan Iqbal (yang tentu saja dateng 15 menit sebelum kelas berakhir). Tujuan kelas ini di hari terakhir adalah semua orang tahu tugas buat Final Semester Assignment dan... kelas improvisasi : dimana akhirnya Mr. Dhani ngeliat hasil film kita dan melihat mise-en-scene-nya.
Maksud gue, emang film kita ada mise-en-scene-nya? Well, gue sih merasa punya gue nggak ada.
Oke, lupakan itu. Gue mau menceritakan hari akhir penjurian American Idol.
Deg-degan? Iyalah, gue manusia. Kalo nggak deg-degan gue mayat berarti kayak Edward Cullen. (Anjrot garing banget gue).
Tapi, apakah sedeg-degan waktu Rough Cut? Nggak. Gue lebih lega. Bukan, bukan karena film gue bagus. Justru sebaliknya, semakin banyak lo menghabiskan waktu di ruang editing, semakin bete lo sama film lo sendiri. Gue tuh kayak udah, “Ah, Bangkit bacot lo dari tadi.” Padahal di film itu Bangkit cuman ngomong 5 line sepanjang film.
Gue lega karena apa ya... ya akhirnya inilah waktunya. Untuk dinilai oleh dosen-dosen gue yang hebat itu. Dosen directing, Miss Mouly. Dosen editing, Mr. Robin. Dosen sound, Miss Illa. Dosen Production, Miss Tika. Dosen-dosenan, Mr. Ekky. Sama kepala jurusan gue, Sebut-Saja-Mawar.
Film diputar dan...
...kalo ini AFI, bakalan ada lonjatan yang cukup signifikan di bagian sms.
Yang artinya, katanya sih ada kemajuan dari versi sebelumnya. Lebih enak diliat. Dan semua-semua pujian yang membuat gue merasa “ah-apaan-sih-lo” Barney-Stinson-Style.
Tapi yang the best dari semua itu adalah...
...gue suka banget bahwa mereka semua menyebutkan banyak kekurangan dan saran-saran yang oke.
Banyak orang yang gak suka kritik. I know, dikritik rasanya menyebalkan sekali. Lo kayak pengen tereak di depan mereka, “Ah bacot lo, Anjing.”
Tapi sebenernya, kalo kritiknya membangun dan membuat lo merasa lebih enakan, kenapa enggak? Itu satu, yang kedua, kalo yang ngasih kritik emang orang yang TAHU BENER tentang hal begituan, bukannya itu ilmu yang sangat bermanfaat ya? Tiga, karena kritik itu emang perlu. Kalo lo keterusan dipuji, lo nggak bakalan nginget untuk stay nginjek tanah which is hal yang paling lo butuhkan agar nggak mendapatkan julukan songong.
Hal inilah yang membuat gue suka. Karena menurut gue, inilah pembelajaran yang sebenernya. Supaya lo tau kesalahan lo dan tahu bagaimana menghindari hal itu di kemudian hari. Jangan biarin Neril merusak makna film lo. Jangan melenceng dari shot list. Jangan lupa bikin shot list yang beneran efektif. Jangan lupa rehearsal. Jangan lupa, jadi director itu tanggung jawabnya besar dan bagusnya, dalam mendirect aktor, lo beneran memunculkan karakter dalam diri talent lo.
Tahu sih gue, bahwa perjalanan masih panjang. Dan film gue ini jauh dari sempurna, tapi one last attempt to make it better because I owe you guys (especially my cast, and my crew, maybe. And myself, haha) to make it as better as possible. Dan terutama gue pengen bahagiain bokap gue bahwa gue ke Jakarta ada hasilnya, bukan hanya berubah menjadi perokok, pemabuk dan pervert.
Anyway, film ini TIDAK AKAN gue upload ke youtube. Jadi yaaa... kalo pengen liat, ketemuan aja (hahahahaha). Dan bakalan ada screening di kampus gue, yang bisa kalian datangi, kalau kalian berkenan datang.
XOXO,
Candra Aditya
Tapi, gue nggak bakalan cerita tentang hal itu. Terlalu menyedihkan. Maksud gue, menyedihkan karena ada kelas Film Artistic yang dibintang utamai oleh Mr. Dhani Agustinus tapi pesertanya cuman gue, Cynthia, dua alien itu dan Iqbal (yang tentu saja dateng 15 menit sebelum kelas berakhir). Tujuan kelas ini di hari terakhir adalah semua orang tahu tugas buat Final Semester Assignment dan... kelas improvisasi : dimana akhirnya Mr. Dhani ngeliat hasil film kita dan melihat mise-en-scene-nya.
Maksud gue, emang film kita ada mise-en-scene-nya? Well, gue sih merasa punya gue nggak ada.
Oke, lupakan itu. Gue mau menceritakan hari akhir penjurian American Idol.
Deg-degan? Iyalah, gue manusia. Kalo nggak deg-degan gue mayat berarti kayak Edward Cullen. (Anjrot garing banget gue).
Tapi, apakah sedeg-degan waktu Rough Cut? Nggak. Gue lebih lega. Bukan, bukan karena film gue bagus. Justru sebaliknya, semakin banyak lo menghabiskan waktu di ruang editing, semakin bete lo sama film lo sendiri. Gue tuh kayak udah, “Ah, Bangkit bacot lo dari tadi.” Padahal di film itu Bangkit cuman ngomong 5 line sepanjang film.
Gue lega karena apa ya... ya akhirnya inilah waktunya. Untuk dinilai oleh dosen-dosen gue yang hebat itu. Dosen directing, Miss Mouly. Dosen editing, Mr. Robin. Dosen sound, Miss Illa. Dosen Production, Miss Tika. Dosen-dosenan, Mr. Ekky. Sama kepala jurusan gue, Sebut-Saja-Mawar.
Film diputar dan...
...kalo ini AFI, bakalan ada lonjatan yang cukup signifikan di bagian sms.
Yang artinya, katanya sih ada kemajuan dari versi sebelumnya. Lebih enak diliat. Dan semua-semua pujian yang membuat gue merasa “ah-apaan-sih-lo” Barney-Stinson-Style.
Tapi yang the best dari semua itu adalah...
...gue suka banget bahwa mereka semua menyebutkan banyak kekurangan dan saran-saran yang oke.
Banyak orang yang gak suka kritik. I know, dikritik rasanya menyebalkan sekali. Lo kayak pengen tereak di depan mereka, “Ah bacot lo, Anjing.”
Tapi sebenernya, kalo kritiknya membangun dan membuat lo merasa lebih enakan, kenapa enggak? Itu satu, yang kedua, kalo yang ngasih kritik emang orang yang TAHU BENER tentang hal begituan, bukannya itu ilmu yang sangat bermanfaat ya? Tiga, karena kritik itu emang perlu. Kalo lo keterusan dipuji, lo nggak bakalan nginget untuk stay nginjek tanah which is hal yang paling lo butuhkan agar nggak mendapatkan julukan songong.
Hal inilah yang membuat gue suka. Karena menurut gue, inilah pembelajaran yang sebenernya. Supaya lo tau kesalahan lo dan tahu bagaimana menghindari hal itu di kemudian hari. Jangan biarin Neril merusak makna film lo. Jangan melenceng dari shot list. Jangan lupa bikin shot list yang beneran efektif. Jangan lupa rehearsal. Jangan lupa, jadi director itu tanggung jawabnya besar dan bagusnya, dalam mendirect aktor, lo beneran memunculkan karakter dalam diri talent lo.
Tahu sih gue, bahwa perjalanan masih panjang. Dan film gue ini jauh dari sempurna, tapi one last attempt to make it better because I owe you guys (especially my cast, and my crew, maybe. And myself, haha) to make it as better as possible. Dan terutama gue pengen bahagiain bokap gue bahwa gue ke Jakarta ada hasilnya, bukan hanya berubah menjadi perokok, pemabuk dan pervert.
Anyway, film ini TIDAK AKAN gue upload ke youtube. Jadi yaaa... kalo pengen liat, ketemuan aja (hahahahaha). Dan bakalan ada screening di kampus gue, yang bisa kalian datangi, kalau kalian berkenan datang.
XOXO,
Candra Aditya
Sabtu, 04 Juni 2011
Scoring Time Part II
Hari kedua scoring nih.
Hari pertama masih coba-coba berhadiah. Hari kedua ini beneran nyoba untuk scoring.
Nah, setelah menemukan referensi dari Trent Reznor (SUMPAH, KALO DIDENGER, KALIMAT INI KEDENGERAN SANGAT SONGONG), kali ini kita langsung hajar. Maksudnya lebih gue bacot dan si Boy menghajar keyboardnya.
Apparently, kerja sama musisi jauh lebih susah dari yang gue kira. Karena gue tau apa yang gue mau, tapi gue gak tau gimana cara bilangnya. Kayak gue nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Untunglah Boy orangnya sangat okeh, jadinya cukup memuaskan.

At some point, kita bikin nada kayak detak-detak jantung nggak jelas yang... sangat mirip dengan nada-nada yang dibikin sama Hans Zimmer di Inception. Dan gue sama sekali gak kepikiran sama Inception karena konsep gue sama Inception beda gila.
At the end of the day, kita bikin 3 tema musik untuk 4 sequence (salah satu sequence bakalan make tema yang sama dengan yang salah satu sequence).
Cross fingers, semoga match dan jadi keren filmnya!
Dibawah ini ada dokumentasi pembuatan scoring kita yang direkam oleh Angkasa Ramadhan :
Hari pertama masih coba-coba berhadiah. Hari kedua ini beneran nyoba untuk scoring.
Nah, setelah menemukan referensi dari Trent Reznor (SUMPAH, KALO DIDENGER, KALIMAT INI KEDENGERAN SANGAT SONGONG), kali ini kita langsung hajar. Maksudnya lebih gue bacot dan si Boy menghajar keyboardnya.
Apparently, kerja sama musisi jauh lebih susah dari yang gue kira. Karena gue tau apa yang gue mau, tapi gue gak tau gimana cara bilangnya. Kayak gue nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Untunglah Boy orangnya sangat okeh, jadinya cukup memuaskan.
At some point, kita bikin nada kayak detak-detak jantung nggak jelas yang... sangat mirip dengan nada-nada yang dibikin sama Hans Zimmer di Inception. Dan gue sama sekali gak kepikiran sama Inception karena konsep gue sama Inception beda gila.
At the end of the day, kita bikin 3 tema musik untuk 4 sequence (salah satu sequence bakalan make tema yang sama dengan yang salah satu sequence).
Cross fingers, semoga match dan jadi keren filmnya!
Dibawah ini ada dokumentasi pembuatan scoring kita yang direkam oleh Angkasa Ramadhan :
Kamis, 02 Juni 2011
Scoring Time
Hai, guys... sudah lama rasanya saya nggak berbincang kepada kalian semua mengenai perkembangan film "Break".
In short, "Break" sudah menemui titik terang dalam hidupnya karena sudah PICTURE LOCK (buat kalian yang belum tahu istilah ini, picture lock artinya dimana semua tahapan editing sudah finish. Di film feature biasanya agak alot untuk sampai di posisi ini karena ada banyak kepala yang memutuskan mulai dari sutradara, produser atau mungkin executive producernya kalau dia sangat berkuasa. Kalau sudah pic-lock, berarti urutannya NGGAK BOLEH diacak-acak lagi karena... akan membuat bagian sound menggila. Tugas sound setelah pic-lock adalah nge-sync dialog dan memberikan "nyawa" berikutnya kepada film dengan memberikan scoring, soundtrack, foley segala macem termasuk mungkin visual effect dan animasi). "Break" berdurasi 4 menit 26 detik.
Walopun ini semua ternyata masih belum se-pic-lock itu karena ada "penjurian" terakhir dimana dosen-dosen gue akan mengatakan apa yang mereka pikirkan untuk memperbaiki film gue.
Jadi, karena film gue sudah pic-lock, saatnya mencari komposer bispak untuk memberikan scoring kepada film saya. Pada awalnya gue memikirkan temen gue yang sangat berbakat dalam hal ini, Gamma Patriono. Akan tetapi, Angkasa yang mengajak gue ke tempat Boy yang mana juga jenius musik, membuat gue terbuai untuk melihat apa yang bisa dia lakukan dengan film gue.
Jujur saja, gue nggak ada bayangan sama sekali tentang musik untuk film gue. Well, bukannya gue buta 100% karena gue punya satu spesifik referensi untuk satu sequence dimana rokok adalah setan. Gue menggunakan lagu yang lumayan creepy dari salah satu music scoring "Suspiria" yang judulnya "Celesta and Bells".
Dan ketika Boy nanya gue maunya kayak gimana, gue beneran gak tau jawab apa. Sampe akhirnya gue mencoba ngulik-ngulik winamp gue dan menemukan bahwa...

...scoring Social Network (yang posternya sengaja gue pampang di depan Doni) yang dibuat dengan maha jenius oleh Trent Reznor dan Atticus Rozz ternyata sangat-sangat-sangat oke untuk dimasukin di film gue.
Gue nggak nyangka. Maksud gue, gue tau banget kalo gue suka banget sama David Fincher. Gue cinta sama Social Network. Tapi gue nggak nyangka kalo scoringnya ternyata menginspirasi gue untuk menambahkan sesuatu dalam "Break".
Tadi emang masih belum direkam, masih sekedar ngobrol sana-sini. Rencananya besok gue bakalan make Boy lebih lama untuk mem-finishkan musik "Break".
Cross fingers.
PS : Scre4m udah tayang by the way. Apakah kalian sudah menonton? ITS WORTH WATCHING.
In short, "Break" sudah menemui titik terang dalam hidupnya karena sudah PICTURE LOCK (buat kalian yang belum tahu istilah ini, picture lock artinya dimana semua tahapan editing sudah finish. Di film feature biasanya agak alot untuk sampai di posisi ini karena ada banyak kepala yang memutuskan mulai dari sutradara, produser atau mungkin executive producernya kalau dia sangat berkuasa. Kalau sudah pic-lock, berarti urutannya NGGAK BOLEH diacak-acak lagi karena... akan membuat bagian sound menggila. Tugas sound setelah pic-lock adalah nge-sync dialog dan memberikan "nyawa" berikutnya kepada film dengan memberikan scoring, soundtrack, foley segala macem termasuk mungkin visual effect dan animasi). "Break" berdurasi 4 menit 26 detik.
Walopun ini semua ternyata masih belum se-pic-lock itu karena ada "penjurian" terakhir dimana dosen-dosen gue akan mengatakan apa yang mereka pikirkan untuk memperbaiki film gue.
Jadi, karena film gue sudah pic-lock, saatnya mencari komposer bispak untuk memberikan scoring kepada film saya. Pada awalnya gue memikirkan temen gue yang sangat berbakat dalam hal ini, Gamma Patriono. Akan tetapi, Angkasa yang mengajak gue ke tempat Boy yang mana juga jenius musik, membuat gue terbuai untuk melihat apa yang bisa dia lakukan dengan film gue.
Jujur saja, gue nggak ada bayangan sama sekali tentang musik untuk film gue. Well, bukannya gue buta 100% karena gue punya satu spesifik referensi untuk satu sequence dimana rokok adalah setan. Gue menggunakan lagu yang lumayan creepy dari salah satu music scoring "Suspiria" yang judulnya "Celesta and Bells".
Dan ketika Boy nanya gue maunya kayak gimana, gue beneran gak tau jawab apa. Sampe akhirnya gue mencoba ngulik-ngulik winamp gue dan menemukan bahwa...

...scoring Social Network (yang posternya sengaja gue pampang di depan Doni) yang dibuat dengan maha jenius oleh Trent Reznor dan Atticus Rozz ternyata sangat-sangat-sangat oke untuk dimasukin di film gue.
Gue nggak nyangka. Maksud gue, gue tau banget kalo gue suka banget sama David Fincher. Gue cinta sama Social Network. Tapi gue nggak nyangka kalo scoringnya ternyata menginspirasi gue untuk menambahkan sesuatu dalam "Break".
Tadi emang masih belum direkam, masih sekedar ngobrol sana-sini. Rencananya besok gue bakalan make Boy lebih lama untuk mem-finishkan musik "Break".
Cross fingers.
PS : Scre4m udah tayang by the way. Apakah kalian sudah menonton? ITS WORTH WATCHING.
Langganan:
Postingan (Atom)