The wait is over.
Gue nggak ngomongin tentang kedatangan final battle Harry Potter. Ngga. Untuk itu, kita cuman bisa berdoa dan berharap bahwa siapapun yang bertanggung jawab atas mangkirnya final saga Harpot di Indonesia disiksa sekejam-kejamnya di dunia (dan kalo akhirat ada, di akhirat).
Gue ngomongin tentang nasib film pendek assignment gue, “Break”.
Setelah lama menanti, setelah pre production yang melelahkan dan sangat tidak optimal. Setelah proses produksi yang melelahkan dan post production yang menghabiskan air mata, tibalah waktunya untuk actually world premiere. Bahwa film ini akhirnya harus ditonton oleh masyarakat. Untunglah bahwa dosen-dosen gue sudah mempersiapkan mental gue untuk yang terburuk. Komentar mereka yang jujur membuat gue tau bagaimana cara bersikap ketika ada orang yang tereak ke muka lo dan bilang, “This isn’t work.”
Gue bangun agak pagian karena ada sesuatu yang gue kerjakan. Dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya antara gue dan Iqbal dan Mike, kita memutuskan untuk tampil rapi jali. Gue memakai jaket terbaik gue, jeans terbaik gue dan kaos terbaik gue (yang semuanya kayaknya bukan gue sendiri yang beli).
World premiere. Semoga seru.
Gue udah mengundang seluruh cast gue. Dewa tidak membalas. Bangkit katanya masih tentatif. Dan Caca pasti dateng, secara dia membintangi separuh film classmates gue. Tata juga pasti dateng. Namanya tercantum di tiga film. Dan tentunya tiga executive producers gue yang cantik : Nisa, Arinta, Qorina.
Ok, here we go.
Gue nyampe agak pagian dan ke Ratu Plaza untuk beli DVD Blank dan CD Case buat ngeburn film gue dan bakalan gue kasih sama crew dan cast gue. Akhirnya gue nyampe di kampus setengah empat, setengah jam sebelum acara dimulai.
Anti klimaks. Gue ngebayangin acaranya full-packed seperti Premiere Ayat-Ayat Cinta atau semacamnya, ternyata yang dateng baru Citra, Devy sama sodaranya, Cynthia Rulin dan Iqbal. Mana yang lainnya?
Ah, ngga seru. Dan ternyata emang tidak serame yang gue kira. Gue menyalahkan hujan, bukan karena emang acara world premiere gue sama anak-anak bukan acara penting.
Tibalah kata sambutan blablabla dan grup pertama. Selalu grup gue. Film Citra diputar, kemudian film Mike, kemudian film Iqbal. Dan terakhir film gue.
Deg-degan. Nggak bisa keringetan karena AC di kampus kenceng oke.
Dan film diputar. Ketika layar muncul countdown, temen gue nyeletuk, “Tengil banget lo pake countdown segala...”
Gue membalas, “Lah, katanya Miss Mouly emang dikasih countdown.”
Lagian keliatannya emang seru aja sih kalo dikasih countdown. Kesannya kayak nunggu apa gitu. Dan film gue mulai.
Gue sih udah bosen anjing. Maksud gue, gue udah liat berjuta-juta kali. Ampe bosen dan beneran muak. Literally sick.
Gue menunggu respon aneh seperti, “Apaan sih ini, lightingnya bikin sakit mata!” atau “Ini linear atau non-linear sok-sokan ala QT?”
Ternyata tidak. Mereka tenang. Cool. Atau mereka ngga peduli? Nggak tau juga sih. Tapi pas ending dimana akhirnya ada twist dikit, mereka ber-ooh ria. Pelan sih, tapi membuat gue langsung keranjingan dan berteriak dalam hati, “Siiippp...”
Datanglah momen Q and A yang sangat nggak menyenangkan karena bahasa inggris gue sama bagusnya kayak idiot.
Dan ada nih satu bule yang akhirnya bilang bahwa, “I like the last film the most...” yang langsung membuat gue menutup pendengaran lainnya kecuali baris kalimat tadi yang menurut gue kayak nyanyian duyung.
Dan dia nanya sama gue, bagaimana gue kerja sama dengan sound departmen, lighting dan semuanya dan tentang konsep gue?
Mampus.
Gue sih bisa langsung oke ngejelasinnya pake bahasa indonesia raya merdeka ini, tapi in english. Gue jadinya kayak Dori di Finding Nemo yang kadang-kadang kena short term memory lost.
Tapi yang jelas, bahwa ada orang yang suka dengan attempt gue untuk membuat “Break” menjadi film yang mendingan daripada aslinya (sumpah, gue ga lebay, tapi i really hate the script). Dan karena “Break” adalah salah satu upaya gue untuk memberikan penghargaan kepada film-film jadul kelas B yang sangat gue kagumi seperti Suspiria, semua film horor jaman dulu dan terutama film-filmnya Ibu Suzzana tercinta.
Dan mengenai scoring. Itu bukan gue yang pintar atau apa. Komposernya aja yang jenius.
Dan tentu saja, semakin sering lo menonton film lo sendiri, keinginan untuk mengubah waktu semakin menjadi-jadi. Lo semakin tahu shot-shot apa yang seharusnya ada tapi nggak ada. Apa yang perlu ditambah, apa yang mesti diilangin dan sebagainya.
Bikin film, ya, semakin membuat gue semakin menyenanginya. Melelahkan, tapi fun. Dan gue langsung tau dimana kesalahan gue dan gue, Insya Allah, nggak bakalan mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Dan tentu saja, ngedenger orang komentar tentang film lo, meskipun itu jelek atau bagus (terutama kalo bagus), bakalan ngebuat lo menggelinjang setengah mati.
Sori, guys. Gue nggak bisa ngupload ke youtube karena satu dan lain hal. Tapi kalo penasaran mo liat, bisa sih kita ketemuan, nonton bareng atau gimana (yaelah, emang gue siape?).
Dan ini terakhir kalinya gue bilang terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua orang yang bantuin gue. Kru, cast, dosen-dosen, semua orang yang ngebantu gue.
Regards,
Candra Aditya