Rabu, 25 Mei 2011

Enter The Void

Bagaimana rasanya setelah lo syuting film lo dengan penuh emosi jiwa dan raga terus dosen lo, yang tentunya sudah pakar di bidangnya, mulai memberikan pendapat mereka tentang film lo? Deg-degan sih udah bumbu wajib ya. Dan lo bahagia parah ketika mereka bilang "Gue suka ini... Gue suka itu..."

Tapi begitu mereka bilang "...bagian ini gak penting dan nggak work aja...", walopun lo tau mereka benar, lo rasanya pengen ngunyah silet di tempat. Sakit banget. Tapi ini nggak benar. Lo gak boleh personal dan DENGARKAN mereka, itu yang penting. Karena mereka bilang gitu bukan karena mereka pengen lo jatoh dan ngemut paramex seharian, tapi mereka pengen film lo work lebih perfect.

Setelah 2-3 harian, lo udah mulai calm dan saat itulah saat yang paling ngadem untuk mulai ngedit film lo lagi.

Nyalakan yang namanya final cut pro, dan kalo lo kayak gue yang kenalan pertamanya pake premiere, kenalan pertama dengan final cut pro memang tidak begitu nyaman. Masih ada momen kinjong-kinjongan gak jelas dan rasa pengen tereak, "Kentot lo final cut pro, gue sunat abis, mampus lo!" Tapi, yang namanya youtube digunakan nggak hanya untuk ngintip Rebecca Black sama Justin Bieber aja, tapi juga untuk ngintip tutorial-tutorial gokil yang mungkin lo butuhkan.

Setelah udah oke, ketika lo masuk editing room, baca lagi catetan lo tentang apa yang dosen lo (atau dalam kasus lo, mungkin saja mentor/teman lo) tentang pendapat mereka dan PERBAIKI di versi ini.

Nah, kali ini, kalo dosen lo jago ngedit (temen lo juga boleh), lo bisa minta bantuan dia untuk menceritakan cerita lo itu dengan baik. Karena pada akhirnya, editing adalah penceritaan ulang. Skrip yang udah FINAL DRAFT itu bisa saja diobrak-abrik lagi susunannya dan mungkin beberapa makna, efek dan meaningnya jadi berubah. Tapi, jangan khawatir, itu semua dilakukan untuk yang terbaik.

At least, itulah yang gue rasakan. Segedek apapun ketika lo mendengar orang-orang bacot soal kerja keras lo di film barusan, ketika lo melihat hasil editan terbaru dan emang lebih sreg, ringkas dan enak diliat, lo berasa pengen meluk siapapun yang bilang nggak perfect barusan. Dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.

Anyway, film gue masih jauh dari kata picture lock sih tapi sudah mulai mendekati. Ada beberapa decision editing yang kelasnya kelas wahid, ada juga yang simple. Yang wahid mungkin adalah keputusan gue untuk nggak "menjadulkan" semua footage film gue. Kan gue udah sok-sokan pengen ala 80-an dengan kasih efek 80-an. Tapi setelah gue coba, nggak begitu bagus hasilnya. Jadi, yang gue kasih cuman opening credits sama credit title aja.

Mungkin itu sih my big decision. Sama syuting ulang kemarin, adegan insert shot nggak penting imel-imelan, karena yang kemaren kata-katanya kurang tajam, setajam silet.

Dan gue sudah menemukan soundtrack buat ending film gue yang dimainkan oleh, tidak lain dan tidak bukan, The Mischievous. Mad Empire adalah judul lagunya dan itu sangat EPIK.

Oke, see you soon. I'll tell you another tale.

Sabtu, 21 Mei 2011

Bang Bang

Hari Kamis, kelar kelas Directing, setelah makan tentunya, gue sama Angkasa langsung ngejogrok di depan ruangan 303, kencan dengan laptop dan Premiere sampe jam setengah sepuluh.

Raihan jadi teroris sampe akhirnya kita berangkat ke CK jam setengah sepuluh dan ketemuan sama Raihan di CK Cikajang. Setelah gila-gilaan bentar, Citra dan Bieber datang dan kita mulai mengedit.

Tentu saja, kita bener-bener tidak peduli dengan keadaan sekitar. Perhatikan ini, yang bakalan terjadi di dekat orang yang sedang mengedit : mereka bakalan melakukan hal-hal gila seperti dzikir “anjing” dan “kentot”, nyanyi sendirian, ketawa sendirian, nangis sendirian, nari sendirian. Jason Mraz style : we sing, we dance, we steal things.

Setelah itu, jam 4 pagi, karena kesian sama mas-mas CK juga, kita cabut. Citra ke rumahnya, Bieber balik ke kosannya, gue, Angkasa dan Raihan ke rumahnya Raihan yang kalo bisa gue bilang adalah rumah impian. Kayak rumah-rumah di film silat Indosiar. Dengan taman di depan rumah yang sangat hijau, lengkap dengan ayunan segala macem. Dan begitu masuk ke kamar Raihan dan ranjang yang menggoda, gue semakin pengen tidur. Malem sebelumnya hanya tidur 2 jam dan hari ini tidak ada tidur. Tentu saja ranjang itu terlihat sangat menggoda.

Untuk itulah (dan kamar itu tingginya 5-6 meter, memberikan kesan klaustropobik) gue menyalakan MTV dan E! Untuk menjaga mata gue melek. 30 Second to Mars dan kenapa lo mesti tau dengan hubungan Khloe dan Lamar adalah sesuatu yang membuat gue melek. Tapi yang paling bikin gue melek adalah kenyataan bahwa Ashanty semakin dekat dengan Anang Hermansyah setelah duet bersama dan mencampakkan Syahrini tapi tidak sedekat itu karena Ashanty tidak menemani Mas Anang potong rambut.

Dan tiba-tiba udah jam 7 malem yang ditandai dengan pembantu Raihan masuk ke kamar, memberikan nasi goreng bertelor mata sapi dan bersosis ala Shinta-Jojo. Gue beneran merasa kayak Donald Trump walo hanya beberapa detik. Maksud gue, kapan lagi lo menikmati sarapan di ranjang dengan MTV menyala? Dan jangan salahkan gue kalo pas gue mandi di kamar mandi Raihan, gue kayak anak udik merem di bawah pancuran air panas dan setelahnya melakukan cita-cita gue mengaca di cermin yang berembun yang mengharuskan gue menyentuh cerminnya dulu supaya embunnya ilang, Kate Winslet style. Kayak di Titanic.

Nyampe di kampus gue muntah. Bukan karena semua guru ngumpul di ruangan yang sama dengan notes di pangkuan mereka. Ada Mr. Ekky, ada Mr. T, Ada Miss Mouly, Ada Adilla, Ada Robin adan Miss Tika.

Semuanya udah parno duluan. Ehmm... mungkin sama orang yang nggak pernah tidur di rumah makanya dia bisa tidur dimana aja yang dia mau, yang keliatannya cool aja seperti biasanya. Maksud cool disini adalah tidur di kelas like usual.

Dan grup kita, grup ITC dateng pertama. Mike keliatan cool (filmnya tentang anak yang ngebaks dan bad trip), Trus Citra (yang menceritakan tentang hubungan lo sama Tuhan dengan cara yang paling gak lo pikirkan), trus gue.

FYI, sebelum hari ini, gue udah mikirin semua jawaban atas perkiraan pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan kayaknya pasti bakalan ditanyakan. Terutama kalo lo udah liat film gue.

Yang ternyata... tidak hanya pertanyaan. Mereka cuman bilang banyak sekali input dan comment tentang “roller coaster eksperimen” yang gue lakukan di film gue. Yang tentu saja sangat membantu gue untuk mengumpulkan ide-ide baru di editing selanjutnya dan beberapa hal yang memang udah gue tau duluan seperti kenyataan bahwa ngedirect aktor itu susahnya kayak taik.

Jadi, rasanya kayak thank you karena mereka nggak nanya ini, nanya itu. Walopun mungkin saja mereka bakalan melakukannya di kelas masing-masing.

Dan gue sangat suka dengan kata “improvement” keluar dari mulut seorang Miss Mouly Surya. Maksud gue, itu kayak duar banget buat gue. Gue harus bekerja lebih keras buat ngedirect aktor karena itu memang penting dan pe-er gila-gilaan. Gue harap, gue masih punya banyak waktu kan? Dan gue juga punya banyak hal yang harus gue lakukan di editing buat final cut.

Dan sebenernya kenapa gue melakukan seperti yang gue lakukan di film gue sih sebenernya bukan karena gue sok tengil atau gimana. Miss Mouly bener banget, lo terjun di sebuah area dimana talent is overrated. Tapi gue pengen banget pushed my boundaries. Maksud gue, gue sekolah kan bergantung sama nilai-nilai gue yang mana harus gue dapatkan sesempurna mungkin demi masa depan gue, yang mana semakin lama semakin berat gue rasakan karena makin hari gue semakin less optimist.

Dan jam 4 mereka mendrop bom yang terdiri dari ratusan kalimat kepada semua orang. Terutama tentang drama dan attitude anak film pas syuting film dan gue nggak bisa melupakan satu kalimat atau satu topik yang salah satu dosen bilang.

Gue nulis ini bukan karena gue sok-sokan ngebela diri sendiri ya. Gue tau, gue salah gila. Dan tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, gue masih manusia. Jadi, masih agak bisa dimengerti kalo kita lupa satu atau dua hal. Tentang insiden kenapa-gue-lupa-ngajakin-Bangkit-satu-satunya talent-gue-untuk-gabung-makan-setelah-wrap-syuting. Yang terjadi karena gue capek gila dan pleng-plengan lupa dan gue juga masih emosi jiwa karena syuting adegan terakhir gue gak ada puas-puasnya, keadaan chaos dan gue semakin nervous diliatin begitu banyak orang ngedirect adegan itu. Tentu saja gue lupa. Dan Bangkit juga udah capek dan mau pulang. Jadi kita berdua lupa. Dan tentu saja gue nggak melakukan itu DISENGAJA. Maksud gue, itu adalah hal pertama yang ada di otak gue : treat talent gue dengan hormat dan enak.

Tapi, sebelum orang-orang semua bilang, gue udah guilty duluan dan malem itu gue sms Bangkit dan bilang bahwa kita pasti bakalan ketemuan lagi karena gue masih butuh rekaman suara lo dan gue pasti BAKALAN NRAKTIR LO, dan dia bilang, “Santai aja, Bro. Slowww...”

Dan dengan duit hanya 15 ribu pas pulang dan gue ngantuk berat, gue nggak tau harus ngapain, gue memutuskan untuk tidur jam 7 malem dan bangun jam 6 sore keesokan harinya. Dan ini adalah sebuah pesan buat kalian yang tidak makan apapun selama kurang lebih 35 jam, jangan bangun langsung berdiri. Penglihatan lo bakalan jadi hitam semua.

Kamis, 19 Mei 2011

Post-Pro Madness

Seperti yang selalu gue sebutkan bahwa menjadi anak film itu sangat menyenangkan. Melelahkan gila tapi sangat menyenangkan.

Tapi kadang kita lupa betapa melelahkannya itu. Maksud gue, tiga minggu lalu kita menggila syuting. Syuting sini, syuting sana. Badan langsung drop. Satu sakit, semuanya sakit. Secara selalu bersama-sama dan sharing segala macem. Jadi ya, mo gak mau, lo ketularan juga.

Dan kita baru aaaajjja istirahat dikit, tiba-tiba udah ditodong rough cut sama kampus. Dosen-dosen itu bakalan berkumpul untuk menjudge apakah kita pantas mendapatkan gelar mahasiswa film dan kita mempersiapkan pertanyaan 'motivasi lo apa?' dari para dosen dan berusaha nggak pipis di celana di tempat.

Sekarang gue harus menggila untuk mengedit dan untung sajaaa... Robin Moran mengijinkan kita ngedit rough draftnya di premiere yang mana, gue agak ahli ketimbang final cut pro.

Jadi, doakan saya selamat sampai at least, setelah disidang.

Salam,

Candra Aditya

Ditemani : Citra Melati, Raihan Aahmes, Angkasa Ramadhan dan Arja Wawo-Runtu

Kamis, 12 Mei 2011

Shots!


Ok, guys. I dont mean to freak you out, but im not in a good place right now.

Tadi siang, sambil menunggu callingan dari Iqbal untuk syutingan berikutnya, gue memutuskan untuk meng-capture hasil syuting dan mengeditnya secara asal di Premiere (karena hasil akhirnya HARUS diedit di Final Cut Pro, selain karena emang sudah titah dari dosen, Robin Moran yang terhormat, tapi juga karena gue pengen mengembangkan sayap gue di dunia ngedit-ngedit)untuk melihat kira-kira apakah hasilnya sesuai bayangan.

Hasilnya adalah tidak.

Well, nggak 100% nggak sih. Beberapa part emang seperti yang gue bayangkan. Tapi sangat jauh dari bayangan gue.

Menyebalkan. Dan gue gak bisa mengulanginya.

Miss Mouly sangat benar. Ini adalah pembelajaran paling besar yang gue dapatkan selama kuliah. You cant go backwards. You move forward.

Dan gue jadi tahu, apa yang membuat gue salah :

1. Sangat kurang persiapan.

2. Kurang ngobrol sama DOP gue, apa yang sebenernya gue mau

3. Kurang ngebantai aktor (bukan berarti yang maen kemarin nggak bagus ya, cuman kurang perfect aja dan ngeliat talent gue yang gokz-kill, kayaknya mereka bisa lebih bagus)

4. Terakhir yang paling penting, KURANG SABAAAARRRRR

Sebenernya, gue nggak bakalan sepanik ini kalo gue sama kayak anak lainnya. Masalahnya gue kasus spesial. Nasib kuliah gue ditentukan dengan nilai-nilai gue, yang juga ditentukan dengan bagus tidaknya film gue.

Jadi, kalo GPA gue kurang, gue hanya bisa mengisi titik-titik dan Tuhanlah yang bakalan ngisi titik-titik kosong itu.

Minggu, 08 Mei 2011

Death Proof

Sekolah film sangat menyenangkan.

Seriusan. Kerjaannya ngakak ngikik, pusing mikirin skrip, terus ngakak lagi, dan mulai syuting, stres sendiri, di editing gila sendiri, final cut menggila sendiri, trus ngakak lagi yang kali ini mungkin ditambah tangisan.

Kali ini adalah sensasi yang sangat berbeda. Pertama, ini adalah film proper pertama gue yang gue bikin dengan status mahasiswa. Dua film pendek gue sebelumnya belum bisa dihitung proper karena kalo dibandingkan dengan yang satu ini, persiapannya gila-gilaan. Dari pre-pro (casting ya Tuhan dan Tata thank you so much) aja gue udah keteteran duluan. Belum lagi kenyataan bahwa ini film bakalan jadi nilai gue. Dan fakta bahwa, nasib gue sekolah di kampus mahal itu menjadi taruhan kalo film gue gagal. Ingat, IPK harus diatas 3,5. Rasanya pengen bunuh diri dimakan sama biawak.

Hari H datang.

Anak-anak sudah dateng duluan dan gue sama Henna masih harus nyasar dan muter sekali lagi karena kebodohan kita nyari rumahnya Pak Agni buat nyari lighting. Crew gue udah nyampe duluan di kampus, termasuk juga talent gue, Caca yang gokil, dan gue masih otw. Kalo gue gak malu-maluin gue udah bunuh diri, secara semalem sebelumnya gue udah sms ke anak-anak ‘dateng jam setengah sepuluh on time, telat gue bacok’. Dan yang telat malah gue.

Nyampe kampus, anak-anak langsung beres-beres dengan tugasnya. Gue langsung ke perpus pinjem buku buat props. Turun ke bawah Caca udah ready dan langsung shoot scene satu, interior dalam mobil. 15 menit kelar. Thanks Caca, you’re so amazing dan gue doakan pacar lo yang berikutnya nggak pengen cabut dari lo lewat twitter.

Berikutnya kita langsung cabut ke lokasi, kosan dosen gue. Gue sebelumnya harus membeli beberapa benda keramat syuting seperti lakban (catat, ini adalah hidup mati lo di lokasi), mika plastik berwarna (buat filter lighting, karena apparently, gue nggak paham kalo ternyata color gel jauh lebih berguna) dan baterei serta lampu 14 watt (harganya 50 ribu dan gue pengen bunuh diri di tempat).

Sementara gue membiarkan crew gue ngaso dan makan sementara dan gue sok-sokan jadi seniman yang gak makan (gue gak bisa laper karena apparently, lo merasa harus melakukan semuanya secepat mungkin dan sesempurna mungkin). Ini menghemat energi karena balik-balik semuanya udah ada di tempat. Poster udah terpasang dari hari sebelumnya. Laptopnya buat Doni udah masang, DVD-DVD Fincher, DVD filmnya Edgar Wright (Shaun of the Dead sama Hot Fuzz, yang gue pasang untuk pamer aja bahwa gue terinspirasi berat sama dia), BB, korek, rokok, buku dengan banyak post-it (sesuai dengan skrip) semuanya udah ter-set. Tinggal nunggu cast dan syuting.

Okeh, akhirnya Bangkit datang dan dia keringetan.



Kemudian datanglah Dewa. Dan kita mulai syuting.

Gue cuman perlu reading bentar dan latihan blocking karena hari sebelumnya udah latihan di Coffee Toffee. Dan langsung syuting. Gokilnya adalah ternyata lighting gue dengan mika plastik itu bisa beneran jadi seperti yang gue mau walaupun... mikanya langsung kepanasan dan mengkerut. Jadi, itulah alasannya kenapa color gel dibutuhkan untuk lighting warna-warni.

Dewa kelar, dia langsung cabut. Dan kini giliran gue memakai Bangkit sampai kelar scene.





Sampai adegan Bangkit dihantui oleh rokok, gue masih fine dan gue bekerja dengan nyaman. Begitu dosen gue, alias pemilik kamar masuk, gue mulai menggila. Sama seperti ketika gue nulis, gue nggak bisa diawasi sama orang. Jadinya gue panik sendiri. Apalagi udah sore juga dan gue nggak membiarkan crew gue istirahat untuk makan kecuali ngerokok 15 menit. Dan gue juga udah kekurangan energi untuk bentak-bentak (ya, gue agak tereak-tereak dan annoying kalo udah mulai nge-direct. Sori, guys).

Begitu masuk adegan toilet, crew gue udah mulai loyo semua dan gue makin panik karena ada beberapa scene dan jutaan shot. Gue makin gila dan pemilik kos mulai berteriak-teriak pengen liat bola. Sebenernya dia nggak papa, tapi kalimat-kalimat itu membuat gue jadi semakin bete dan merasa bahwa gue harus ngerjain ini secepat mungkin.

Berikutnya kelompok lain kelar syuting dan “berkunjung” ke lokasi dan pemilik kos berkata ke gue bahwa kita nggak boleh tereak-tereak, rame atau segalanya.

Sementara gue membutuhkan aktor gue mengeluarkan emosinya buat scene resolusi. Oke. Gue memutuskan untuk mengorbankan scene ini.



Dan akhirnya pas adegan balkon, gue nggak boleh make lighting ribet karena kalo keliatan dari depan takutnya orang-orang pemilik kos minta duit karena kita make syuting nggak ijin dan mungkin minta bayaran.

Gue makin loyo dan akhirnya ngesyut ngasal. Satu take. Kelar. Wrap.

Dan gue nggak ngambil room-tone walopun dosen sound gue udah tereak-tereak soal room tone (untuk masa depan, ambil room tone di awal syuting karena lo masih inget, fresh dan bahagia moodnya. Pas udah kelar mood lo udah drop dan gak bakalan mikir taik-taikan kayak gini lagi. Peduli setan dosen lo bilang apa, REKAM ROOM TONE DI AWAL. Dan di akhir kalo bisa).

Crew gue bahagia. Pemilik kamar bahagia. Orang-orang bisa cabut. Yang nggak bahagia, mungkin cuman gue.

Karena gue sadar bahwa skrip gue biasa saja dan gue membutuhkan visualisasi yang luar biasa yang tidak kesampean. Secara teori emang rencana fotografi film gue harusnya dahsyat. Tapi keterbatasan alat, intelejensia dan kesabaran gue serta skill kita yang masih pemula, membuat semuanya tidak seperti yang gue bayangkan di otak. Dua, moodnya jumping dan warna-nya bakalan jumping yang mungkin (atau tidak) diakalin di editing. Tiga, gue bete aja karena gue membutuhkan kesabaran dan support yang tidak gue dapatkan pas syuting.

Ya, gue tau, budget gue sangat kere. Budget gue udah abis buat beli benda-benda nggak penting dan sekedar bayarin makan crew gue (TALENT GUE BAHKAN GUE BIARIN KELAPARAN, ANJING, KEJAM BANGET GAK SIH GUE???). Mana mungkin gue bisa sewa ruangan yang gue bebas merdeka make ruangan itu kayak apapun. Mo lightingnya 700 juta watt atau talent gue tereak-tereak sampe tenggorokannya bedarah, terserah! Ya, itu sih udah bagian resiko aja kali ya. Saran gue sih, buat masa depan, kalo lo emang syuting di rumah orang, temen lo atau siapapun, pastikan lo bisa ngedapetin apa yang lo mau biar lo nggak bawaannya nyolot kayak gue. Dan lo puas dengan hasil yang lo lakukan.



Jujur saja ya, syuting Breaking-Up Date jauh lebih fun dan gue santai. Moodnya enak dan semuanya bekerja dengan lancar. Untunglah syuting Break ini gue mendapatkan crew yang gokil. Mike gokil dan niat walopun duduk di lantai dan baca majalah syur, Iqbal mau melakukan sinematografi geisha, Citra menjadi produser/assistant sutradara yang baik dan Arja mau gue jadiin lighting-man manual (karena gak ada kakinya, lightingnya harus dipegang tangan dan FYI, lampu itu panas dan bau). Thanks guys, I cant do any of this if you’re not around.

Dan tentu saja talent gue yang gokil. Bangkit, Caca, Dewa. Lo semuanya juara.

Ngomong-ngomong, gue akhirnya melihat hasil syuting gue (dan dihakimi oleh Pak Agni) dan mendengar diri gue mikir bahwa gue harus ngetake ini, ngesyut ini, dan segala macem (dan seperti perkiraan gue, semuanya adalah shot-shot yang syutingnya akhir-akhir yang pas udah chaos), tapi gue rasa, itu udah lumayan dan cukup mendekati seperti yang gue mau (atau jangan-jangan, ini cuman sekedar penghiburan diri karena gue ulang tahun kemarin dan nungguin bokap nelpon gue tapi gak nelpon-nelpon?).

Dan terakhir, sebelum Miss Mouly tereak-tereak soal motivasi kenapa ini begini ini begitu, gue mau minta maaf aja kalo ntar pas liat film gue udah stres duluan. Dan Robin Moran yang mungkin ntar bakalan freaked out. Dan Pak Agni yang sepertinya bakalan kaget ngeliat gue nggak dengerin dia sama sekali tentang apa-itu-white-balance-dan-segala-macemnya. Dan juga Miss Ila yang mungkin bakalan garuk-garuk telinga karena sound-nya super ngasal.

Paling gak, dengan ini semua, gue berharap bahwa kelompok lain yang belum syuting, bisa belajar dari semua kesalahan gue.


Jumat, 06 Mei 2011

Menggila.com

Oke, setelah filmnya Mike kelar, malemnya kita syuting filmnya Mike lagi yang gagal karena... dia gak menghubungi talent (padahal semua crew-nya udah dateng duluan) yang ternyata jadi sakit. Jadilah kita berangkat ke Sunter tapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali mabok. Jadi, guys, kalo kalian mau syuting, pastikan talent sudah siap sebelum crew lo semuanya udah ready.

Kemarin btw, syuting filmnya Citra. Yang enak adalah filmnya indoor. Fun dan seru. Pokoknya setelah syuting filmnya Mike yang ribet, semuanya kayak gampang aja gitu.

Nah, ntar sore, gue giliran reading sama cast gue. Terus ada syuting adegan pendek malam hari sama Caca yang bakalan diambil di Coffee Toffee di Hang Lekir.

Wish me luck.

PS : Beli color gels dimana ya?

Senin, 02 Mei 2011

Shooting Tips (Especially at Night, Exterior and in Kota)

Gue tau, ini bukan syuting resmi buat "Break" (yang rencananya akan dilaksanakan minggu ini di hari Sabtu, 7 Mei 2011), tapi sekedar berbagi pengalaman dan tips buat kalian yang syuting gerilya.

Jadi, gue ditunjuk sebagai unofficial leader dimana gue bertugas untuk in-charge bahwa semua anak buah gue mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Baik di filmnya sendiri sebagai sutradara atau pas jadi crew di film orang lain. Di kelompok gue ada 4 orang, termasuk gue, Citra Melati, Iqbal Fadly dan Mike Julius. Ya, empat-empatnya orang gak waras semua.

Film pertama yang dapet jadwal syuting adalah filmnya Mike yang ternyata paling banyak scene-nya dan ribet banget lokasinya. Dari Kota sampe Bunderan HI dan malem pula. Jadilah, gue memutuskan yang ribet dipertamakan.

Kemarin setelah kelas Academic English yang maha-taik itu, gue sama anak-anak langsung ke rumahnya MIke, preparation bentar dan hajar ke Kota untuk syuting.

Berikut ini adalah tips yang gue dapet waktu syuting kemarin dari filmnya Mike :

1. Please kalo hunting lokasi yang pasti, jangan sampe udah di lokasi lo masih gak yakin mo syuting dimana.

2. Pastikan lo udah tau shot-shot mana aja yang lo ambil, jadi kalopun lo improvisasi, nggak kebanyakan juga.

3. Please do READING. Latihan yang banyak. Rehearse, rehearse, rehearse. Selain blokingnya juga enak, biar nggak kebanyakan ngulang.

4. Kalo kru dan termasuk lo adalah pemabuk kayak the rest of us, please stay sober at least until the very last of the shot. Kalo emang udah wrap semuanya hari itu, lo boleh mandi alkohol.

5. Ini sepele, tapi mukjizatnya tinggi : AUTAN IS YOUR NEW BESTFRIEND. Kota, terutama daerah exteriornya, kalo malem, nyamuknya lebih ganas dari banci yang ngegodain Arja pas kita berenti di perempatan Blok M.

6. Abis syuting, pastikan semuanya nggak ada yang ketinggalan dan kalo emang gerilya, kembalikan apapun seperti aslinya. Ambil sampah. Cintailah kebersihan.

Dan dengan ini gue menyatakan bahwa gue sangat untung, syuting gue INDOOR!

Minggu, 01 Mei 2011

Re-Introduce Ronan

Salah satu yang paling bikin paranoid adalah kalau lo udah mendekati waktu syuting lo dan ternyata salah satu pemain lo masih agak susah dihubungi. Ini bakalan gampang diselesaikan kalo lo syuting proper alias beneran. I mean, you hire an actor and you pay them. Tapi kalo lo syuting buat tugas kampus yang mana, tentu saja, lo membayar kerja keras mereka dengan terima kasih, lo harus siap mental untuk bekerja sama dengan baik dan nggak menomor satukan ego lo.

Mendekati hari H, Iboy yang harusnya menjadi Ronan ternyata sibuk dan masih belum bisa meluangkan waktunya untuk reading. Gue agak ketakutan. Jadi, dengan sangat terpaksa gue bilang sama Iboy bahwa saat ini, gue kayaknya nggak bisa make dia lagi, walopun dia udah komit. Dia sibuk dan gue tau itu. Tapi gue, dengan sangat menyesal, nggak bisa mengorbankan film gue.

Maksud gue, gue tau bahwa film gue cuman film pendek 5 menit maksimal. Tapi, gue pengen hasilnya bagus. Gue pengen, kalopun dia hanya tampil setengah menit, dia bisa keliatan bagus. Dan gue pengen perfect. Semuanya pasti pengen semua yang dia hasilkan bagus dong. Nggak terkecuali gue. Jadi ya... ketimbang gue punya potensi bahwa film gue kurang bagus gara-gara salah satu pemainnya masih ragu-ragu atau masalah lain, mendingan gue cari aktor lainnya ASAP.

Dan terima kasih kepada casting manager gue, the one and only, Tata, untuk membawakan satu lagi manusia yang mencoba untuk menjadi Ronan.

Namanya Dewa, kuliah di UI (harus ya?) dan alasan yang keren kenapa dia main di film gue adalah karena dia pengen bantu gue karena dia tau bahwa ngebantuin orang bakalan dapat karma yang bagus karena sekarang dia juga lagi skripsi.

Isn’t that nice?

Dan ya, gue ngasih jempol pas dia bilang gitu sama gue.

Anyway, dia cocok dengan apa yang gue harapkan. Bisa merokok, kooperatif dan enak diajak ngobrol. Dia juga tau apa yang gue mau. Tentu saja dengan reading dan ketemuan sama cast lainnya bakalan membuat aktingnya menjadi semakin duar. Tapi, saat ini, gue udah puas duluan dengan ketemuan kemarin.

Jadi, once again, I have to say that Im so fucking satisfied with my cast and I really cant wait to start shooting.

Dan masalah baru yang mungkin bakalan menghadang adalah : jadwal syuting gue yang gue puyeng mikirinnya. But, that’s another story.

So, let me introduce you to... RONAN. AGAIN.

And I promise, this is the last time I said that.



Dewa is the guy on the right.