Oke, barusan gue melakukan reading tercepat di dunia bersama Caca di Coffee Toffee Senayan.
Yang gue seneng adalah Caca adalah jenis seorang talent yang semangat dan passionate soal perannya ini. Dia belajar ngerokok (kenapa sih gue dengan nyuruh orang jadi smoker?) dan semangat tentang perannya. Dia bahkan sampe minta buat panjangin kukunya supaya pas megang rokok tangannya keliatan cute.
Aww... Caca. Love you.
Dan tentang penampilannya, GUE DEMEN GILA.
Cant wait to shoot dan kumpul sama the rest of the cast!
Its not as easy as it looks. Coming Soon. Written, Produced and Directed by Candra Aditya.
Jumat, 29 April 2011
Kamis, 28 April 2011
Manipluasi Colorful Lighting
Gue agak-agak gila akhir-akhir ini. Mendekati hari production gue semakin gila karena gue banyak ide tapi gue nggak ngerti apakah gue bisa mengaplikasikan ide gue dengan benar atau enggak, karena semua orang tahu bahwa gue berpengalaman dalam memikirkan konsep tapi secara kenyataan nggak sesuai dengan apa yang gue mau.
Jadi, kalian tahu bahwa gue pengen bikin film gue kayak Suspiria gitu lightingnya. Dan gue masih agak parno, bagaimana cara bikinnya.
Jadi, ini adalah salah satu cara memanipulasi colorful lighting. Tapi gue nggak tahu apakah ini ngaruh di videonya apa nggak.

Kalo kalian tahu caranya, ide, saran atau apapun, plis dong, gue butuh banget. Thanks.
Jadi, kalian tahu bahwa gue pengen bikin film gue kayak Suspiria gitu lightingnya. Dan gue masih agak parno, bagaimana cara bikinnya.
Jadi, ini adalah salah satu cara memanipulasi colorful lighting. Tapi gue nggak tahu apakah ini ngaruh di videonya apa nggak.

Kalo kalian tahu caranya, ide, saran atau apapun, plis dong, gue butuh banget. Thanks.
Kamis, 21 April 2011
Reading Pertama
Setelah kemarin gagal reading dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan, hari ini akhirnya gue jadi reading. Walopun akhirnya cuman sama Bangkit karena si Iboy UTS dan Caca tidak bisa karena udah ada janji.
Seperti biasa, ketemuan dilakukan di 7-Eleven Senayan, which is merupakan tempat reading yang buruk karena ramai, banyak alay dan susah konsen. Tapi tidak apa-apa, ternyata semuanya berjalan dengan lancar.
Yang gue lakukan, instead of beneran baca dialog dengan lantang dan serius (tetep baca dan serius, cuman gak seserius itu) karena skrip gue minim dialog, gue bilang sama Bangkit untuk menelaah dialog yang gue tulis (bahasa gue itu low) dan mengganti kalimat yang mungkin dia ngerasa nggak comfort untuk bilangnya. Dari sini ternyata gue sadar bahwa ini hal yang bagus karena Bangkit memberikan gue inspirasi untuk nambahin detil-detil kecil yang gak berpengaruh signifikan tapi kalo ditambah detil kecil itu, hasilnya jadi tambah komplit.
Jadi ya... reading pertama sangat menyenangkan.
Tidak sabar untuk mengumpulkan semua cast gue.
Seperti biasa, ketemuan dilakukan di 7-Eleven Senayan, which is merupakan tempat reading yang buruk karena ramai, banyak alay dan susah konsen. Tapi tidak apa-apa, ternyata semuanya berjalan dengan lancar.
Yang gue lakukan, instead of beneran baca dialog dengan lantang dan serius (tetep baca dan serius, cuman gak seserius itu) karena skrip gue minim dialog, gue bilang sama Bangkit untuk menelaah dialog yang gue tulis (bahasa gue itu low) dan mengganti kalimat yang mungkin dia ngerasa nggak comfort untuk bilangnya. Dari sini ternyata gue sadar bahwa ini hal yang bagus karena Bangkit memberikan gue inspirasi untuk nambahin detil-detil kecil yang gak berpengaruh signifikan tapi kalo ditambah detil kecil itu, hasilnya jadi tambah komplit.
Jadi ya... reading pertama sangat menyenangkan.
Tidak sabar untuk mengumpulkan semua cast gue.
Senin, 18 April 2011
Ok, this is the new RONAN
Gue bete banget sebenernya karena FARMAN-LAH yang harusnya menjadi RONAN.
Satu, karena dia UDAH PAS banget jadi RONAN. Gak seperti 100% yang ada di bayangan gue, tapi gayanya, ke-rock-n-roll-an dia bener-bener cocok. Dan bisa.
Tapi, sayang, dia sibuk dan gak bisa. Jadilah gue mengkontak satu-satunya orang gokil yang kenal banyak orang-orang narsis, Tata.
Dan ketemulah gue sama Iboy.

Sejujurnya, Iboy lebih cute dari yang gue bayangkan. I mean, like unyu. Sementara peran yang gue tawarkan tuh lebih yang rusuh, yang rock-n-roll. Bangsat nomor satu.
Poin plusnya, dia bisa merokok. Dia pernah main film pendek juga.
Dan walopun dia agak-agak pemalu dan menurut gue ini bakalan chalenging, gue akhirnya mau karena gimana-gimana dia emang bisa main di film gue.
Jadilah, cast gue udah komplit. Tinggal gimananya gue ngajakin mereka ketemuan, reading and prepare to roll the camera.
So, this is Ronan.

Satu, karena dia UDAH PAS banget jadi RONAN. Gak seperti 100% yang ada di bayangan gue, tapi gayanya, ke-rock-n-roll-an dia bener-bener cocok. Dan bisa.
Tapi, sayang, dia sibuk dan gak bisa. Jadilah gue mengkontak satu-satunya orang gokil yang kenal banyak orang-orang narsis, Tata.
Dan ketemulah gue sama Iboy.

Sejujurnya, Iboy lebih cute dari yang gue bayangkan. I mean, like unyu. Sementara peran yang gue tawarkan tuh lebih yang rusuh, yang rock-n-roll. Bangsat nomor satu.
Poin plusnya, dia bisa merokok. Dia pernah main film pendek juga.
Dan walopun dia agak-agak pemalu dan menurut gue ini bakalan chalenging, gue akhirnya mau karena gimana-gimana dia emang bisa main di film gue.
Jadilah, cast gue udah komplit. Tinggal gimananya gue ngajakin mereka ketemuan, reading and prepare to roll the camera.
So, this is Ronan.

Rabu, 13 April 2011
Suspiria
Tentu saja gue masih panik karena semuanya belum beres, walopun gue bisa bernafas lega bahwa gue udah menemukan Doni. Kudos to Tata. I love you. Dan kalo "ramalan" itu benar, mungkin guelah berondong yang lo cari, Ta.
Aniwei, karena gue udah bilang bahwa skrip gue membosankan dan bisa dibuat menarik secara visual, gue memutuskan untuk membuat "Break" menjadi film-film yang look-nya ala-ala film 80-an yang lightingnya lebay. Kayak film-filmnya Suzzana, lo bisa liat istana Nyi Roro Kidulnya penuh dengan lampu warna-warni dunia. Atau kayak film Suspiria, di bawah ini :



Yang sebenernya gue temukan saat gue menonton film ala-ala 80-an, Grindhouse-thingy berjudul Hobo With A Shotgun :

Gue suka banget sama lampu-lampunya karena menurut gue, itu bisa menjadi salah satu trik gue untuk menunjukkan emosi seorang perokok yang lagi break ngerokok (hence, the title). Kayak dunia ini gak real. Ini state of mind-nya dia. Ngerti kan?
Selain itu, gue juga membayangkan bahwa ada satu sequence dimana gue mencoba untuk mengeditnya ala-ala filmnya Edgar Wright yang cepat karena menurut gue, itu keren dan cocok-cocok aja masuk di film gue.

Gue emang baru sadar kalo Edgar Wright adalah salah satu dewa gue. Emang dia bukan Kubrick atau Spielberg atau Hitchcock, tapi gayanya gokil dan gue suka. Kenapa emang kalo cuman bikin film ketawa-ketiwi?
Jadi, cross finger, semoga gue bisa membuatnya seperti yang gue bayangkan.
Aniwei, karena gue udah bilang bahwa skrip gue membosankan dan bisa dibuat menarik secara visual, gue memutuskan untuk membuat "Break" menjadi film-film yang look-nya ala-ala film 80-an yang lightingnya lebay. Kayak film-filmnya Suzzana, lo bisa liat istana Nyi Roro Kidulnya penuh dengan lampu warna-warni dunia. Atau kayak film Suspiria, di bawah ini :



Yang sebenernya gue temukan saat gue menonton film ala-ala 80-an, Grindhouse-thingy berjudul Hobo With A Shotgun :

Gue suka banget sama lampu-lampunya karena menurut gue, itu bisa menjadi salah satu trik gue untuk menunjukkan emosi seorang perokok yang lagi break ngerokok (hence, the title). Kayak dunia ini gak real. Ini state of mind-nya dia. Ngerti kan?
Selain itu, gue juga membayangkan bahwa ada satu sequence dimana gue mencoba untuk mengeditnya ala-ala filmnya Edgar Wright yang cepat karena menurut gue, itu keren dan cocok-cocok aja masuk di film gue.

Gue emang baru sadar kalo Edgar Wright adalah salah satu dewa gue. Emang dia bukan Kubrick atau Spielberg atau Hitchcock, tapi gayanya gokil dan gue suka. Kenapa emang kalo cuman bikin film ketawa-ketiwi?
Jadi, cross finger, semoga gue bisa membuatnya seperti yang gue bayangkan.
Senin, 11 April 2011
Let Me Introduce You To Doni
Gue desperate.
Karena dari tiga orang yang gue casting, gue masih belum menemukan satu orang, satu orang saja yang membuat gue mikir, “Oke. Ini dia yang gue cari.”
Jadilah, gue minta bantuan orang terbaik sedunia, Tata, untuk mencarikan satu orang. Dan di hari Jumat lalu, akhirnya ketemuanlah gue sama Bangkit di 7-Eleven.

Seperti kebiasaan gue ngasting kemarin, gue nanya-nanya basa-basi kenapa lo mau main di film gue, apa sih yang lo suka dan blahdiddyblahblah. Lalu gue menunjukkan skrip gue dan gue tanya tentang apa sih karakter Doni di kepala lo.
Dan inilah yang membuat gue memutuskan bahwa Bangkit bisa jadi Doni : dia menjawab pertanyaan gue dengan benar.
Gue langsung kayak bahagia, seneng, campur aduk gak karuan karena akhirnya gue menemukan Doni, karakter utama gue. Gue semakin dekat.
Yang sekarang menjadi pe-er gue lagi adalah kemungkinan besar Farman, calon pemeran Ronan, kakak Doni sepertinya nggak bisa main karena ada banyak hal yang mesti dia lakukan. Jadi ya... gue kayaknya harus nyari Doni-nya. Tapi untuk sementara, gue udah nggak sabar untuk ngajar si Bangkit menjadi Doni. Reading bersama dan menjelajah ke galaksi-nya Doni.
Sebenernya gue keliatan agak parnoan karena ini film pendek yang cuman 3 menit gitu. Tapi percaya atau enggak, sebenernya, kesuksesan film lo, 80% adalah dari aktornya. Mereka bisa membuat film lo keren banget dan bisa membuat film lo jelek banget. Maka dari itulah gue jadi parno kayak begini karena gue udah sadar banget bahwa skrip yang gue tulis membosankan dan gue membutuhkan aktor yang gokil dan bagaimana penanganan gue terhadap skrip membosankan ini.
Jadi untuk itu, gue ucapkan good luck kepada Bangkit karena sudah masuk ke neraka gue dan bakalan ketemu muka gue lebih sering dari yang gue harapkan. Dan gue juga berterima kasih kepada Teguh Hadi, Tiko dan Josep Alex yang sudah mau repot. Sori, kalian masih belum cocok. Next time kalo gue ada film dan kalian cocok dengan peran gue, gue tau bakalan kemana.
Karena dari tiga orang yang gue casting, gue masih belum menemukan satu orang, satu orang saja yang membuat gue mikir, “Oke. Ini dia yang gue cari.”
Jadilah, gue minta bantuan orang terbaik sedunia, Tata, untuk mencarikan satu orang. Dan di hari Jumat lalu, akhirnya ketemuanlah gue sama Bangkit di 7-Eleven.

Seperti kebiasaan gue ngasting kemarin, gue nanya-nanya basa-basi kenapa lo mau main di film gue, apa sih yang lo suka dan blahdiddyblahblah. Lalu gue menunjukkan skrip gue dan gue tanya tentang apa sih karakter Doni di kepala lo.
Dan inilah yang membuat gue memutuskan bahwa Bangkit bisa jadi Doni : dia menjawab pertanyaan gue dengan benar.
Gue langsung kayak bahagia, seneng, campur aduk gak karuan karena akhirnya gue menemukan Doni, karakter utama gue. Gue semakin dekat.
Yang sekarang menjadi pe-er gue lagi adalah kemungkinan besar Farman, calon pemeran Ronan, kakak Doni sepertinya nggak bisa main karena ada banyak hal yang mesti dia lakukan. Jadi ya... gue kayaknya harus nyari Doni-nya. Tapi untuk sementara, gue udah nggak sabar untuk ngajar si Bangkit menjadi Doni. Reading bersama dan menjelajah ke galaksi-nya Doni.
Sebenernya gue keliatan agak parnoan karena ini film pendek yang cuman 3 menit gitu. Tapi percaya atau enggak, sebenernya, kesuksesan film lo, 80% adalah dari aktornya. Mereka bisa membuat film lo keren banget dan bisa membuat film lo jelek banget. Maka dari itulah gue jadi parno kayak begini karena gue udah sadar banget bahwa skrip yang gue tulis membosankan dan gue membutuhkan aktor yang gokil dan bagaimana penanganan gue terhadap skrip membosankan ini.
Jadi untuk itu, gue ucapkan good luck kepada Bangkit karena sudah masuk ke neraka gue dan bakalan ketemu muka gue lebih sering dari yang gue harapkan. Dan gue juga berterima kasih kepada Teguh Hadi, Tiko dan Josep Alex yang sudah mau repot. Sori, kalian masih belum cocok. Next time kalo gue ada film dan kalian cocok dengan peran gue, gue tau bakalan kemana.
Sabtu, 09 April 2011
Kuliah Film, WHY THE HELL NOT?

Jujur aja ya, gue selalu bangga jaya 100 persen kalo ditanya sama orang gue kuliah apa. Kayak begini pasti dialognya :
Orang : Can, lo kuliah apa?
Gue : (siap-siap melihat ekspresinya) FILM.
Orang : WOW.
Ya. Wow.
Kuliah film emang keren dan asik banget. Assignmentnya gokil-gokil, kelasnya fun dan lo nonton film seharian, NGGAK BAKALAN ADA ORANG YANG KOMENTAR! Itu adalah salah satu sedikit poin positif kenapa lo kuliah film diantara sejuta kelebihan lainnya seperti, lo bisa ketemu idola lo. Entah itu pemain film, sinematografer, scripwriter atau bahkan sutradara.
Sebenernya, gue tau juga sih, gue orang beruntung banget. Pertama, gue bisa mendapatkan beasiswa di kampus gue sekarang dan bisa menekuni sesuatu yang emang udah jadi passion gue banget. Kedua, orang tua gue fine-fine aja dengan keputusan ini yang sebenernya itu masalah hal lain.
Tapi, kalo gue pikir-pikir, kalo misalnya mereka punya uang dan bisa ngebiayain gue kuliah apapun yang gue mau, mereka juga gak bakalan mau nguliahin gue film juga, kayak orang-orang tua konservatif lainnya.
Karena ya film is just simply hiburan. Bukan suatu kerjaan. Orang-orang tua, apalagi yang tinggalnya di daerah kayak orang tua gue, bakalan lebih bangga kalo gue jadi dokter misalnya. Atau PNS (CUIH!). Atau anggota DPR (yang mungkin nyolong liat bokep pas rapat paripurna). Bukan seorang pembuat film.
Padahal menjadi pembuat film, bukan sesuatu yang menyedihkan. Atau memalukan. Dan ngomongin gaji, walopun gak segede anggota DPR, juga lumayan. Lo bisa jalan-jalan keluar negeri gratis kalo film lo kece dan main di festival-festival luar negeri. Dan lo bisa temenan sama artis-artis ibukota yang hot. Mungkin malah bisa jadi teman kencan. Hahaha... nggak penting ya? Tapi, lo ngertilah maksud gue.
Mereka (kebanyakan) menganggap bahwa menjadi pembuat film itu bukan suatu profesi. Mendingan belajar jadi arsitek ketimbang buang-buang duit.
Padahal nih ya, gue kasih tau, menjadi pembuat film itu adalah pekerjaan yang cukup mulia. Lo bisa mendidik satu bangsa. Lo bisa merubah hidup banyak orang.
Lo nggak harus selalu menampilkan pesan moral berbahagia seperti film-filmnya (gue gak mau ngasih nama, tapi kayaknya lo tau siapa), tapi lo bisa menyampaikan sesuatu. Lo bisa memberikan sebuah ide tentang sesuatu. Lo bisa mendidik orang. Kayak Laskar Pelangi misalnya. Lo pikir itu hiburan? Bukan kali. Itu mah kayak gampar pemerintah tentang kecarutmarutan sistem Indonesia yang sangat nggak merata. Lo pikir KALA cuman ngomongin tentang harta karun berjuta-juta yang bisa bikin Fachri Albar meringis bahagia? Bukan kali. Itu mah lagi nyindir politikus Indonesia, MUI dan segala macemnya.
See? Lihat betapa banyak yang bisa lo lakukan hanya dengan membuat film.
Dan, nih yang penting, membuat film yang baik (dan mungkin bagus) sebenernya bisa lo lakuin, apapun background lo. Tapi, seperti yang orang tua ajarkan, alangkah baiknya kalo lo mempelajari secara detail apa yang mau lo lakukan, sehingga lo bisa membuatnya dengan sangat baik.
Banyak filmmaker yang nggak belajar tentang film tapi mereka beken-beken aja. Kayak Tim Burton misalnya. Tapi jadinya, keliatan banget film-filmnya, bagaimana dia mendevelop filmnya, berdasarkan referensi yang dia punya.
Ngerti kan?
Di sekolah film lo bisa jadi belajar tentang penulisan skrip yang baik, cara jadi sutradara yang benar, ngedit yang efektif dan segala macemnya. Mungkin lo cuman pengen jadi produser, tapi bukan berarti lo harus tutup mata soal ini semua kan? Lo harus ngerti juga.
Jadi, menurut gue, udah saatnya lo, kalo lo emang tertarik dengan dunia film dan film adalah passion lo, lo bisa mulai belajar untuk ngerangkai kata, meyakinkan orang tua lo bahwa lo pengen belajar film. Bukan buat senang-senang karena sekolah film itu cool dan tralala trilili, tapi karena ini adalah yang lo pengenin di dunia ini. Bahwa lo pengen menyampaikan sesuatu. Mungkin mendidik orang lain. Mungkin cuman pengen menghibur doang. Nggak papa kan? Emangnya salah kalo lo cuman pengen memberikan 2 jam paling menyenangkan buat orang lain? Nggak dong.
Udah saatnya filmmaker-filmmaker Indonesia menunjukkan bahwa mereka bisa bikin film yang bagus. Bahwa kita terdidik dengan benar. Kalopun emang lo nggak belajar di jalan yang benar, seperti sekolah film, ada banyak cara. Ada banyak buku tentang film. Nggak perlu beli kalo emang mahal. Lo bisa download file PDF-nya di internet yang gue yakin ada sejuta. Sekolah film cuman menuntun lo dengan step-step yang sudah ditata dengan indah. Selebihnya, itu lo sendiri yang menentukan kemana lo bakalan berjalan.
Dan kenapa gue mau mem-posting ini?
Karena gue tau, bahwa ada banyak diantara kalian yang mau mengambil jalan yang gue ambil tapi terhalam oleh bebatuan kecil (atau besar) dan kalian nggak mau ngambil resiko.
Tapi, bukannya hidup itu udah penuh resiko duluan ya?
Kamis, 07 April 2011
Casting Hari Kedua
Kamis malam kemarin, 7-Eleven menjadi tempat gue mengcasting seorang pemuda berstatus mahasiswa jurusan Fisika di UI, bernama Josep. Hihihi... lebay ya.
Yang jelas, gue ditemani dua asisten gue, Henna sama Cynthia, nemuin Josep di 7-Eleven dan nantinya si Adam Dwi nyusul bersama Kania Kasmadi. Terima kasih kepada kalian berdua kalian ngbuat gue jauh lebih nervous daripada yang seharusnya.
Pertama-tama gue mau minta maaf sama Josep karena gue, sekali lagi maksa orang untuk ngerokok sementara dia belum pernah ngerokok. Dan walopun dia udah bilang bahwa dia udah "latian" ngerokok di bis, tetep aja gue ngerasa agak kasian karena gue udah ngerusak anak orang.
Anyway, gue seneng Josep datang karena gue merasa kayak dihargai banget bahwa ada orang yang beneran mau dateng dan niat. Kayak komit gitu loh.
Berikut ini adalah rekaman dokumentasi casting kemarin. Sekali lagi, buat Josep, thank you ya.
ini yang paling duar, pas si josep ngerokok. hihihi... sori ya...
Yang jelas, gue ditemani dua asisten gue, Henna sama Cynthia, nemuin Josep di 7-Eleven dan nantinya si Adam Dwi nyusul bersama Kania Kasmadi. Terima kasih kepada kalian berdua kalian ngbuat gue jauh lebih nervous daripada yang seharusnya.
Pertama-tama gue mau minta maaf sama Josep karena gue, sekali lagi maksa orang untuk ngerokok sementara dia belum pernah ngerokok. Dan walopun dia udah bilang bahwa dia udah "latian" ngerokok di bis, tetep aja gue ngerasa agak kasian karena gue udah ngerusak anak orang.
Anyway, gue seneng Josep datang karena gue merasa kayak dihargai banget bahwa ada orang yang beneran mau dateng dan niat. Kayak komit gitu loh.
Berikut ini adalah rekaman dokumentasi casting kemarin. Sekali lagi, buat Josep, thank you ya.
ini yang paling duar, pas si josep ngerokok. hihihi... sori ya...
Just Say It Again
Oke, masih ada seminggu sebelum gue menggila ke reading, dan nggak ada salahnya buat gue nyari orang lain buat main sebagai Doni, di film ini.
Syaratnya gampang, cuman :
1. Mau Gak Dibayar (gue menjanjikan experience yang mengagumkan)
2. Umur 20-an (gak harus 20-an, yang penting bisa KELIATAN 20-an)
3. BISA MEROKOK (kesian kalo gak ngerokok dan gue paksa2)
4. Mau bekerja keras dan komit
masalah tampang dan kekuatan akting sih relatif, gue bisa memoles. Mudah-mudahan.
Kalo emang tertarik, hubungi gue melalui email di erma_azam@yahoo.com atau twitter : candra_aditya atau facebook : facebook.com/candra.aditya.
Thanks.
Kehadiran kalian sangat gue nantikan.
Syaratnya gampang, cuman :
1. Mau Gak Dibayar (gue menjanjikan experience yang mengagumkan)
2. Umur 20-an (gak harus 20-an, yang penting bisa KELIATAN 20-an)
3. BISA MEROKOK (kesian kalo gak ngerokok dan gue paksa2)
4. Mau bekerja keras dan komit
masalah tampang dan kekuatan akting sih relatif, gue bisa memoles. Mudah-mudahan.
Kalo emang tertarik, hubungi gue melalui email di erma_azam@yahoo.com atau twitter : candra_aditya atau facebook : facebook.com/candra.aditya.
Thanks.
Kehadiran kalian sangat gue nantikan.
Rabu, 06 April 2011
Casting Hari Pertama
Jadi, kemarin di sebuah cafe bernama Coffee Toffee di sekitaran Hang Lekir (jalan depannya Moestopo) gue mengadakan casting pertama gue.
Bagaimana rasanya? Tentu saja sangat deg-degan nggak jelas karena emang ini casting gue yang pertama dan gue bener-bener bisa in-charge judging seseorang tanpa mendapatkan label judgemental. Hahaha... nggak juga sih sebenernya. Cuman karena emang ini sangat mendebarkan, seru dan fun.
Yang paling keren adalah fakta bahwa gue membuat pengumuman kecil yang actually beneran ada orang yang mau ikutan partisipasi dan mau jauh-jauh datang untuk gue casting dan gue suruh ngerokok. Ini membuat gue terharu sekaligus bahagia.
Oke, yang pertama datang kemarin adalah Hadi. Dia unyu banget dan passionate soal main di film gue. Kita end-up ngomong banyak hal. Dan gue curhat colongan tentang banyak hal. Gimana gue, gimana masa depan film ini, kenapa gue memutuskan bikin film ini dan lain sebagainya. Dan dia nonton film gue yang breaking-up date (in case kalian belum nonton, kalian bisa melihatnya di link di bawah). Dan setelah itu, dia baca skripnya. Lengkap dengan merokok.
Mungkin gue keliatannya sok cool, padahal gue observasi parah. Bagaimana tangannya gemetar pas megang rokok dan ngisepnya kayak orang lagi mabok. Dia emang bilang sih bukan perokok.
Sampai akhirnya dia bilang bahwa DIA MEROKOK UNTUK PERTAMA KALINYA.
Wah, gawat. Gue ngerusak anak orang. Hahaha... nggak heran, dia ngerokoknya kayak orang kalap. Hihihi... dan gue sangat minta maaf atas hal ini. Setelah itu dia pulang. Thank you atas partisipasinya.
Berikutnya yang datang adalah Tiko, seorang blogger terkenal. Pecinta film. Lima menit kita duduk, kita udah ngebahas Inception sama Nolan. Lebih lama kita duduk, kita udah berpindah ke Lars von Trier. Dan kita ngetos bersama karena gue, Henna sama dia belum liat The Godfather Trilogy. Hahaha...

Tiko merokok dengan wajar. Hahaha... tentu saja gue harus menjelaskan ini. Setelah sebelumnya gue ngerusak anak orang, gue nggak mau dibilang perusak moral bangsa. Jadi, terimakasih Tiko karena udah mau audisi di film gue.
Casting terakhir adalah besok bersama Joseph Alex. Gue nggak sabar untuk menggila.
Dan ngomong-ngomong, buat kalian yang tertarik untuk ikutan casting, masih terbuka kok. Yang gue cari cuman cowok umur 20-an, BISA MEROKOK, dan mau kerja nggak dibayar. Hihihihi...
Berikut ini adalah dokumentasi casting gue kemarin

Breaking-Up Date Short Movie
Bagaimana rasanya? Tentu saja sangat deg-degan nggak jelas karena emang ini casting gue yang pertama dan gue bener-bener bisa in-charge judging seseorang tanpa mendapatkan label judgemental. Hahaha... nggak juga sih sebenernya. Cuman karena emang ini sangat mendebarkan, seru dan fun.
Yang paling keren adalah fakta bahwa gue membuat pengumuman kecil yang actually beneran ada orang yang mau ikutan partisipasi dan mau jauh-jauh datang untuk gue casting dan gue suruh ngerokok. Ini membuat gue terharu sekaligus bahagia.
Oke, yang pertama datang kemarin adalah Hadi. Dia unyu banget dan passionate soal main di film gue. Kita end-up ngomong banyak hal. Dan gue curhat colongan tentang banyak hal. Gimana gue, gimana masa depan film ini, kenapa gue memutuskan bikin film ini dan lain sebagainya. Dan dia nonton film gue yang breaking-up date (in case kalian belum nonton, kalian bisa melihatnya di link di bawah). Dan setelah itu, dia baca skripnya. Lengkap dengan merokok.
Mungkin gue keliatannya sok cool, padahal gue observasi parah. Bagaimana tangannya gemetar pas megang rokok dan ngisepnya kayak orang lagi mabok. Dia emang bilang sih bukan perokok.
Sampai akhirnya dia bilang bahwa DIA MEROKOK UNTUK PERTAMA KALINYA.
Wah, gawat. Gue ngerusak anak orang. Hahaha... nggak heran, dia ngerokoknya kayak orang kalap. Hihihi... dan gue sangat minta maaf atas hal ini. Setelah itu dia pulang. Thank you atas partisipasinya.
Berikutnya yang datang adalah Tiko, seorang blogger terkenal. Pecinta film. Lima menit kita duduk, kita udah ngebahas Inception sama Nolan. Lebih lama kita duduk, kita udah berpindah ke Lars von Trier. Dan kita ngetos bersama karena gue, Henna sama dia belum liat The Godfather Trilogy. Hahaha...

Tiko merokok dengan wajar. Hahaha... tentu saja gue harus menjelaskan ini. Setelah sebelumnya gue ngerusak anak orang, gue nggak mau dibilang perusak moral bangsa. Jadi, terimakasih Tiko karena udah mau audisi di film gue.
Casting terakhir adalah besok bersama Joseph Alex. Gue nggak sabar untuk menggila.
Dan ngomong-ngomong, buat kalian yang tertarik untuk ikutan casting, masih terbuka kok. Yang gue cari cuman cowok umur 20-an, BISA MEROKOK, dan mau kerja nggak dibayar. Hihihihi...
Berikut ini adalah dokumentasi casting gue kemarin

Breaking-Up Date Short Movie
Langganan:
Postingan (Atom)