Kamis, 09 Juni 2011

Something To Die For

Hari ini hari terakhir di semester dua gue kuliah film yang gue bangga-banggakan.

Tapi, gue nggak bakalan cerita tentang hal itu. Terlalu menyedihkan. Maksud gue, menyedihkan karena ada kelas Film Artistic yang dibintang utamai oleh Mr. Dhani Agustinus tapi pesertanya cuman gue, Cynthia, dua alien itu dan Iqbal (yang tentu saja dateng 15 menit sebelum kelas berakhir). Tujuan kelas ini di hari terakhir adalah semua orang tahu tugas buat Final Semester Assignment dan... kelas improvisasi : dimana akhirnya Mr. Dhani ngeliat hasil film kita dan melihat mise-en-scene-nya.

Maksud gue, emang film kita ada mise-en-scene-nya? Well, gue sih merasa punya gue nggak ada.

Oke, lupakan itu. Gue mau menceritakan hari akhir penjurian American Idol.

Deg-degan? Iyalah, gue manusia. Kalo nggak deg-degan gue mayat berarti kayak Edward Cullen. (Anjrot garing banget gue).

Tapi, apakah sedeg-degan waktu Rough Cut? Nggak. Gue lebih lega. Bukan, bukan karena film gue bagus. Justru sebaliknya, semakin banyak lo menghabiskan waktu di ruang editing, semakin bete lo sama film lo sendiri. Gue tuh kayak udah, “Ah, Bangkit bacot lo dari tadi.” Padahal di film itu Bangkit cuman ngomong 5 line sepanjang film.

Gue lega karena apa ya... ya akhirnya inilah waktunya. Untuk dinilai oleh dosen-dosen gue yang hebat itu. Dosen directing, Miss Mouly. Dosen editing, Mr. Robin. Dosen sound, Miss Illa. Dosen Production, Miss Tika. Dosen-dosenan, Mr. Ekky. Sama kepala jurusan gue, Sebut-Saja-Mawar.

Film diputar dan...

...kalo ini AFI, bakalan ada lonjatan yang cukup signifikan di bagian sms.

Yang artinya, katanya sih ada kemajuan dari versi sebelumnya. Lebih enak diliat. Dan semua-semua pujian yang membuat gue merasa “ah-apaan-sih-lo” Barney-Stinson-Style.

Tapi yang the best dari semua itu adalah...

...gue suka banget bahwa mereka semua menyebutkan banyak kekurangan dan saran-saran yang oke.

Banyak orang yang gak suka kritik. I know, dikritik rasanya menyebalkan sekali. Lo kayak pengen tereak di depan mereka, “Ah bacot lo, Anjing.”

Tapi sebenernya, kalo kritiknya membangun dan membuat lo merasa lebih enakan, kenapa enggak? Itu satu, yang kedua, kalo yang ngasih kritik emang orang yang TAHU BENER tentang hal begituan, bukannya itu ilmu yang sangat bermanfaat ya? Tiga, karena kritik itu emang perlu. Kalo lo keterusan dipuji, lo nggak bakalan nginget untuk stay nginjek tanah which is hal yang paling lo butuhkan agar nggak mendapatkan julukan songong.

Hal inilah yang membuat gue suka. Karena menurut gue, inilah pembelajaran yang sebenernya. Supaya lo tau kesalahan lo dan tahu bagaimana menghindari hal itu di kemudian hari. Jangan biarin Neril merusak makna film lo. Jangan melenceng dari shot list. Jangan lupa bikin shot list yang beneran efektif. Jangan lupa rehearsal. Jangan lupa, jadi director itu tanggung jawabnya besar dan bagusnya, dalam mendirect aktor, lo beneran memunculkan karakter dalam diri talent lo.

Tahu sih gue, bahwa perjalanan masih panjang. Dan film gue ini jauh dari sempurna, tapi one last attempt to make it better because I owe you guys (especially my cast, and my crew, maybe. And myself, haha) to make it as better as possible. Dan terutama gue pengen bahagiain bokap gue bahwa gue ke Jakarta ada hasilnya, bukan hanya berubah menjadi perokok, pemabuk dan pervert.

Anyway, film ini TIDAK AKAN gue upload ke youtube. Jadi yaaa... kalo pengen liat, ketemuan aja (hahahahaha). Dan bakalan ada screening di kampus gue, yang bisa kalian datangi, kalau kalian berkenan datang.

XOXO,

Candra Aditya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar