Seriusan. Kerjaannya ngakak ngikik, pusing mikirin skrip, terus ngakak lagi, dan mulai syuting, stres sendiri, di editing gila sendiri, final cut menggila sendiri, trus ngakak lagi yang kali ini mungkin ditambah tangisan.
Kali ini adalah sensasi yang sangat berbeda. Pertama, ini adalah film proper pertama gue yang gue bikin dengan status mahasiswa. Dua film pendek gue sebelumnya belum bisa dihitung proper karena kalo dibandingkan dengan yang satu ini, persiapannya gila-gilaan. Dari pre-pro (casting ya Tuhan dan Tata thank you so much) aja gue udah keteteran duluan. Belum lagi kenyataan bahwa ini film bakalan jadi nilai gue. Dan fakta bahwa, nasib gue sekolah di kampus mahal itu menjadi taruhan kalo film gue gagal. Ingat, IPK harus diatas 3,5. Rasanya pengen bunuh diri dimakan sama biawak.
Hari H datang.
Anak-anak sudah dateng duluan dan gue sama Henna masih harus nyasar dan muter sekali lagi karena kebodohan kita nyari rumahnya Pak Agni buat nyari lighting. Crew gue udah nyampe duluan di kampus, termasuk juga talent gue, Caca yang gokil, dan gue masih otw. Kalo gue gak malu-maluin gue udah bunuh diri, secara semalem sebelumnya gue udah sms ke anak-anak ‘dateng jam setengah sepuluh on time, telat gue bacok’. Dan yang telat malah gue.
Nyampe kampus, anak-anak langsung beres-beres dengan tugasnya. Gue langsung ke perpus pinjem buku buat props. Turun ke bawah Caca udah ready dan langsung shoot scene satu, interior dalam mobil. 15 menit kelar. Thanks Caca, you’re so amazing dan gue doakan pacar lo yang berikutnya nggak pengen cabut dari lo lewat twitter.
Berikutnya kita langsung cabut ke lokasi, kosan dosen gue. Gue sebelumnya harus membeli beberapa benda keramat syuting seperti lakban (catat, ini adalah hidup mati lo di lokasi), mika plastik berwarna (buat filter lighting, karena apparently, gue nggak paham kalo ternyata color gel jauh lebih berguna) dan baterei serta lampu 14 watt (harganya 50 ribu dan gue pengen bunuh diri di tempat).
Sementara gue membiarkan crew gue ngaso dan makan sementara dan gue sok-sokan jadi seniman yang gak makan (gue gak bisa laper karena apparently, lo merasa harus melakukan semuanya secepat mungkin dan sesempurna mungkin). Ini menghemat energi karena balik-balik semuanya udah ada di tempat. Poster udah terpasang dari hari sebelumnya. Laptopnya buat Doni udah masang, DVD-DVD Fincher, DVD filmnya Edgar Wright (Shaun of the Dead sama Hot Fuzz, yang gue pasang untuk pamer aja bahwa gue terinspirasi berat sama dia), BB, korek, rokok, buku dengan banyak post-it (sesuai dengan skrip) semuanya udah ter-set. Tinggal nunggu cast dan syuting.
Okeh, akhirnya Bangkit datang dan dia keringetan.
Kemudian datanglah Dewa. Dan kita mulai syuting.
Gue cuman perlu reading bentar dan latihan blocking karena hari sebelumnya udah latihan di Coffee Toffee. Dan langsung syuting. Gokilnya adalah ternyata lighting gue dengan mika plastik itu bisa beneran jadi seperti yang gue mau walaupun... mikanya langsung kepanasan dan mengkerut. Jadi, itulah alasannya kenapa color gel dibutuhkan untuk lighting warna-warni.
Dewa kelar, dia langsung cabut. Dan kini giliran gue memakai Bangkit sampai kelar scene.
Sampai adegan Bangkit dihantui oleh rokok, gue masih fine dan gue bekerja dengan nyaman. Begitu dosen gue, alias pemilik kamar masuk, gue mulai menggila. Sama seperti ketika gue nulis, gue nggak bisa diawasi sama orang. Jadinya gue panik sendiri. Apalagi udah sore juga dan gue nggak membiarkan crew gue istirahat untuk makan kecuali ngerokok 15 menit. Dan gue juga udah kekurangan energi untuk bentak-bentak (ya, gue agak tereak-tereak dan annoying kalo udah mulai nge-direct. Sori, guys).
Begitu masuk adegan toilet, crew gue udah mulai loyo semua dan gue makin panik karena ada beberapa scene dan jutaan shot. Gue makin gila dan pemilik kos mulai berteriak-teriak pengen liat bola. Sebenernya dia nggak papa, tapi kalimat-kalimat itu membuat gue jadi semakin bete dan merasa bahwa gue harus ngerjain ini secepat mungkin.
Berikutnya kelompok lain kelar syuting dan “berkunjung” ke lokasi dan pemilik kos berkata ke gue bahwa kita nggak boleh tereak-tereak, rame atau segalanya.
Sementara gue membutuhkan aktor gue mengeluarkan emosinya buat scene resolusi. Oke. Gue memutuskan untuk mengorbankan scene ini.
Dan akhirnya pas adegan balkon, gue nggak boleh make lighting ribet karena kalo keliatan dari depan takutnya orang-orang pemilik kos minta duit karena kita make syuting nggak ijin dan mungkin minta bayaran.
Gue makin loyo dan akhirnya ngesyut ngasal. Satu take. Kelar. Wrap.
Dan gue nggak ngambil room-tone walopun dosen sound gue udah tereak-tereak soal room tone (untuk masa depan, ambil room tone di awal syuting karena lo masih inget, fresh dan bahagia moodnya. Pas udah kelar mood lo udah drop dan gak bakalan mikir taik-taikan kayak gini lagi. Peduli setan dosen lo bilang apa, REKAM ROOM TONE DI AWAL. Dan di akhir kalo bisa).
Crew gue bahagia. Pemilik kamar bahagia. Orang-orang bisa cabut. Yang nggak bahagia, mungkin cuman gue.
Karena gue sadar bahwa skrip gue biasa saja dan gue membutuhkan visualisasi yang luar biasa yang tidak kesampean. Secara teori emang rencana fotografi film gue harusnya dahsyat. Tapi keterbatasan alat, intelejensia dan kesabaran gue serta skill kita yang masih pemula, membuat semuanya tidak seperti yang gue bayangkan di otak. Dua, moodnya jumping dan warna-nya bakalan jumping yang mungkin (atau tidak) diakalin di editing. Tiga, gue bete aja karena gue membutuhkan kesabaran dan support yang tidak gue dapatkan pas syuting.
Ya, gue tau, budget gue sangat kere. Budget gue udah abis buat beli benda-benda nggak penting dan sekedar bayarin makan crew gue (TALENT GUE BAHKAN GUE BIARIN KELAPARAN, ANJING, KEJAM BANGET GAK SIH GUE???). Mana mungkin gue bisa sewa ruangan yang gue bebas merdeka make ruangan itu kayak apapun. Mo lightingnya 700 juta watt atau talent gue tereak-tereak sampe tenggorokannya bedarah, terserah! Ya, itu sih udah bagian resiko aja kali ya. Saran gue sih, buat masa depan, kalo lo emang syuting di rumah orang, temen lo atau siapapun, pastikan lo bisa ngedapetin apa yang lo mau biar lo nggak bawaannya nyolot kayak gue. Dan lo puas dengan hasil yang lo lakukan.
Jujur saja ya, syuting Breaking-Up Date jauh lebih fun dan gue santai. Moodnya enak dan semuanya bekerja dengan lancar. Untunglah syuting Break ini gue mendapatkan crew yang gokil. Mike gokil dan niat walopun duduk di lantai dan baca majalah syur, Iqbal mau melakukan sinematografi geisha, Citra menjadi produser/assistant sutradara yang baik dan Arja mau gue jadiin lighting-man manual (karena gak ada kakinya, lightingnya harus dipegang tangan dan FYI, lampu itu panas dan bau). Thanks guys, I cant do any of this if you’re not around.
Dan tentu saja talent gue yang gokil. Bangkit, Caca, Dewa. Lo semuanya juara.
Ngomong-ngomong, gue akhirnya melihat hasil syuting gue (dan dihakimi oleh Pak Agni) dan mendengar diri gue mikir bahwa gue harus ngetake ini, ngesyut ini, dan segala macem (dan seperti perkiraan gue, semuanya adalah shot-shot yang syutingnya akhir-akhir yang pas udah chaos), tapi gue rasa, itu udah lumayan dan cukup mendekati seperti yang gue mau (atau jangan-jangan, ini cuman sekedar penghiburan diri karena gue ulang tahun kemarin dan nungguin bokap nelpon gue tapi gak nelpon-nelpon?).
Dan terakhir, sebelum Miss Mouly tereak-tereak soal motivasi kenapa ini begini ini begitu, gue mau minta maaf aja kalo ntar pas liat film gue udah stres duluan. Dan Robin Moran yang mungkin ntar bakalan freaked out. Dan Pak Agni yang sepertinya bakalan kaget ngeliat gue nggak dengerin dia sama sekali tentang apa-itu-white-balance-dan-segala-macemnya. Dan juga Miss Ila yang mungkin bakalan garuk-garuk telinga karena sound-nya super ngasal.
Paling gak, dengan ini semua, gue berharap bahwa kelompok lain yang belum syuting, bisa belajar dari semua kesalahan gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar