Rabu, 25 Mei 2011

Enter The Void

Bagaimana rasanya setelah lo syuting film lo dengan penuh emosi jiwa dan raga terus dosen lo, yang tentunya sudah pakar di bidangnya, mulai memberikan pendapat mereka tentang film lo? Deg-degan sih udah bumbu wajib ya. Dan lo bahagia parah ketika mereka bilang "Gue suka ini... Gue suka itu..."

Tapi begitu mereka bilang "...bagian ini gak penting dan nggak work aja...", walopun lo tau mereka benar, lo rasanya pengen ngunyah silet di tempat. Sakit banget. Tapi ini nggak benar. Lo gak boleh personal dan DENGARKAN mereka, itu yang penting. Karena mereka bilang gitu bukan karena mereka pengen lo jatoh dan ngemut paramex seharian, tapi mereka pengen film lo work lebih perfect.

Setelah 2-3 harian, lo udah mulai calm dan saat itulah saat yang paling ngadem untuk mulai ngedit film lo lagi.

Nyalakan yang namanya final cut pro, dan kalo lo kayak gue yang kenalan pertamanya pake premiere, kenalan pertama dengan final cut pro memang tidak begitu nyaman. Masih ada momen kinjong-kinjongan gak jelas dan rasa pengen tereak, "Kentot lo final cut pro, gue sunat abis, mampus lo!" Tapi, yang namanya youtube digunakan nggak hanya untuk ngintip Rebecca Black sama Justin Bieber aja, tapi juga untuk ngintip tutorial-tutorial gokil yang mungkin lo butuhkan.

Setelah udah oke, ketika lo masuk editing room, baca lagi catetan lo tentang apa yang dosen lo (atau dalam kasus lo, mungkin saja mentor/teman lo) tentang pendapat mereka dan PERBAIKI di versi ini.

Nah, kali ini, kalo dosen lo jago ngedit (temen lo juga boleh), lo bisa minta bantuan dia untuk menceritakan cerita lo itu dengan baik. Karena pada akhirnya, editing adalah penceritaan ulang. Skrip yang udah FINAL DRAFT itu bisa saja diobrak-abrik lagi susunannya dan mungkin beberapa makna, efek dan meaningnya jadi berubah. Tapi, jangan khawatir, itu semua dilakukan untuk yang terbaik.

At least, itulah yang gue rasakan. Segedek apapun ketika lo mendengar orang-orang bacot soal kerja keras lo di film barusan, ketika lo melihat hasil editan terbaru dan emang lebih sreg, ringkas dan enak diliat, lo berasa pengen meluk siapapun yang bilang nggak perfect barusan. Dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.

Anyway, film gue masih jauh dari kata picture lock sih tapi sudah mulai mendekati. Ada beberapa decision editing yang kelasnya kelas wahid, ada juga yang simple. Yang wahid mungkin adalah keputusan gue untuk nggak "menjadulkan" semua footage film gue. Kan gue udah sok-sokan pengen ala 80-an dengan kasih efek 80-an. Tapi setelah gue coba, nggak begitu bagus hasilnya. Jadi, yang gue kasih cuman opening credits sama credit title aja.

Mungkin itu sih my big decision. Sama syuting ulang kemarin, adegan insert shot nggak penting imel-imelan, karena yang kemaren kata-katanya kurang tajam, setajam silet.

Dan gue sudah menemukan soundtrack buat ending film gue yang dimainkan oleh, tidak lain dan tidak bukan, The Mischievous. Mad Empire adalah judul lagunya dan itu sangat EPIK.

Oke, see you soon. I'll tell you another tale.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar