Sabtu, 09 April 2011

Kuliah Film, WHY THE HELL NOT?


Jujur aja ya, gue selalu bangga jaya 100 persen kalo ditanya sama orang gue kuliah apa. Kayak begini pasti dialognya :

Orang : Can, lo kuliah apa?
Gue : (siap-siap melihat ekspresinya) FILM.
Orang : WOW.

Ya. Wow.

Kuliah film emang keren dan asik banget. Assignmentnya gokil-gokil, kelasnya fun dan lo nonton film seharian, NGGAK BAKALAN ADA ORANG YANG KOMENTAR! Itu adalah salah satu sedikit poin positif kenapa lo kuliah film diantara sejuta kelebihan lainnya seperti, lo bisa ketemu idola lo. Entah itu pemain film, sinematografer, scripwriter atau bahkan sutradara.

Sebenernya, gue tau juga sih, gue orang beruntung banget. Pertama, gue bisa mendapatkan beasiswa di kampus gue sekarang dan bisa menekuni sesuatu yang emang udah jadi passion gue banget. Kedua, orang tua gue fine-fine aja dengan keputusan ini yang sebenernya itu masalah hal lain.

Tapi, kalo gue pikir-pikir, kalo misalnya mereka punya uang dan bisa ngebiayain gue kuliah apapun yang gue mau, mereka juga gak bakalan mau nguliahin gue film juga, kayak orang-orang tua konservatif lainnya.

Karena ya film is just simply hiburan. Bukan suatu kerjaan. Orang-orang tua, apalagi yang tinggalnya di daerah kayak orang tua gue, bakalan lebih bangga kalo gue jadi dokter misalnya. Atau PNS (CUIH!). Atau anggota DPR (yang mungkin nyolong liat bokep pas rapat paripurna). Bukan seorang pembuat film.

Padahal menjadi pembuat film, bukan sesuatu yang menyedihkan. Atau memalukan. Dan ngomongin gaji, walopun gak segede anggota DPR, juga lumayan. Lo bisa jalan-jalan keluar negeri gratis kalo film lo kece dan main di festival-festival luar negeri. Dan lo bisa temenan sama artis-artis ibukota yang hot. Mungkin malah bisa jadi teman kencan. Hahaha... nggak penting ya? Tapi, lo ngertilah maksud gue.

Mereka (kebanyakan) menganggap bahwa menjadi pembuat film itu bukan suatu profesi. Mendingan belajar jadi arsitek ketimbang buang-buang duit.

Padahal nih ya, gue kasih tau, menjadi pembuat film itu adalah pekerjaan yang cukup mulia. Lo bisa mendidik satu bangsa. Lo bisa merubah hidup banyak orang.

Lo nggak harus selalu menampilkan pesan moral berbahagia seperti film-filmnya (gue gak mau ngasih nama, tapi kayaknya lo tau siapa), tapi lo bisa menyampaikan sesuatu. Lo bisa memberikan sebuah ide tentang sesuatu. Lo bisa mendidik orang. Kayak Laskar Pelangi misalnya. Lo pikir itu hiburan? Bukan kali. Itu mah kayak gampar pemerintah tentang kecarutmarutan sistem Indonesia yang sangat nggak merata. Lo pikir KALA cuman ngomongin tentang harta karun berjuta-juta yang bisa bikin Fachri Albar meringis bahagia? Bukan kali. Itu mah lagi nyindir politikus Indonesia, MUI dan segala macemnya.

See? Lihat betapa banyak yang bisa lo lakukan hanya dengan membuat film.

Dan, nih yang penting, membuat film yang baik (dan mungkin bagus) sebenernya bisa lo lakuin, apapun background lo. Tapi, seperti yang orang tua ajarkan, alangkah baiknya kalo lo mempelajari secara detail apa yang mau lo lakukan, sehingga lo bisa membuatnya dengan sangat baik.

Banyak filmmaker yang nggak belajar tentang film tapi mereka beken-beken aja. Kayak Tim Burton misalnya. Tapi jadinya, keliatan banget film-filmnya, bagaimana dia mendevelop filmnya, berdasarkan referensi yang dia punya.

Ngerti kan?

Di sekolah film lo bisa jadi belajar tentang penulisan skrip yang baik, cara jadi sutradara yang benar, ngedit yang efektif dan segala macemnya. Mungkin lo cuman pengen jadi produser, tapi bukan berarti lo harus tutup mata soal ini semua kan? Lo harus ngerti juga.

Jadi, menurut gue, udah saatnya lo, kalo lo emang tertarik dengan dunia film dan film adalah passion lo, lo bisa mulai belajar untuk ngerangkai kata, meyakinkan orang tua lo bahwa lo pengen belajar film. Bukan buat senang-senang karena sekolah film itu cool dan tralala trilili, tapi karena ini adalah yang lo pengenin di dunia ini. Bahwa lo pengen menyampaikan sesuatu. Mungkin mendidik orang lain. Mungkin cuman pengen menghibur doang. Nggak papa kan? Emangnya salah kalo lo cuman pengen memberikan 2 jam paling menyenangkan buat orang lain? Nggak dong.

Udah saatnya filmmaker-filmmaker Indonesia menunjukkan bahwa mereka bisa bikin film yang bagus. Bahwa kita terdidik dengan benar. Kalopun emang lo nggak belajar di jalan yang benar, seperti sekolah film, ada banyak cara. Ada banyak buku tentang film. Nggak perlu beli kalo emang mahal. Lo bisa download file PDF-nya di internet yang gue yakin ada sejuta. Sekolah film cuman menuntun lo dengan step-step yang sudah ditata dengan indah. Selebihnya, itu lo sendiri yang menentukan kemana lo bakalan berjalan.

Dan kenapa gue mau mem-posting ini?

Karena gue tau, bahwa ada banyak diantara kalian yang mau mengambil jalan yang gue ambil tapi terhalam oleh bebatuan kecil (atau besar) dan kalian nggak mau ngambil resiko.

Tapi, bukannya hidup itu udah penuh resiko duluan ya?

1 komentar:

  1. postingannya menarik sekali. . gw juga setuju dengan berbagai pendapat di atas.
    Ngomong2 kuliah di mana?
    Dan kok bisa dapet beasiswa jg?

    Sebelumnya, salam kenal gw dikki setiawan dari surabaya. Gw juga pengen kuliah film dan dapetin beasiswa. Karena gw masih kelas 1 SMA dan belum tau apa2 sudi kiranya mas candra membagikan cara bagaimana agar gw bisa kuliah film. Gw pengen kenal lbih dket gan... Facebooknya apa?

    BalasHapus